Kebiasaan pengemudi mobil listrik (BEV) tanpa sadar membuat jarak tempuh jauh lebih pendek dari seharusnya. Sehingga, hasilnya kerap tidak sesuai dengan klaim pabrikan. Jayan Sentanuhady, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan ada beberapa kebiasaan buruk yang paling sering terjadi, sehingga jarak tempuh mobil listrik lebih pendek. Mobil listrik punya torsi instan, ini kerap membuat pengemudi terbawa suasana dengan melakukan akselerasi dari posisi berhenti sampai melaju kencang. “Padahal konsumsi daya listrik paling besar terjadi ketika awal jalan. Selain beban menggerakkan mobil yang berat, butuh daya lebih; gas pol juga akan menguras daya lebih banyak,” ucap Jayan kepada KOMPAS.com, Sabtu (13/12/2025). Kebiasaan berkendara agresif tersebut cukup menyenangkan pada mobil listrik, karena torsi instan yang dihasilkan. Namun, konsumsi daya listrik terjadi lebih banyak. Dampaknya, jarak tempuh totalnya bisa lebih pendek. Seperti yang diketahui, mobil listrik tak butuh bahan bakar minyak (BBM), tapi tetap butuh daya listrik. Chery J6 di Chery Solo Sementara penampungan daya tersebut ada pada baterai, yang setiap model punya kapasitas masing-masing dan terbatas. “Mobil listrik yang kerap dipakai ngebut sampai kecepatan tinggi juga bisa lebih boros, karena daya listrik akan terkuras lebih banyak. Waktu tempuhnya bisa lebih cepat, tapi jarak lebih pendek,” ucap Jayan. Selain itu, kebiasaan menyetel air conditioner (AC) terlalu dingin, atau dipakai di cuaca panas, bisa membuat beban kerja AC meningkat. “Komponen AC mobil listrik tak lagi membebani motor listrik atau performa, tapi membebani baterai, sehingga daya listrik akan terus terkuras selama AC hidup. Makin dingin target yang harus dicapai, beban kerjanya makin berat,” ucap Jayan. Test drive mobil listrik Toyota Urban Cruiser di Astra Auto Fest 2025 Arif Nugroho, Service Advisor Hyundai Solo Baru, mengatakan mobil listrik punya rem regeneratif atau engine brake yang disebut juga i-pedal. “Jadi pengereman mobil listrik bisa dilakukan dengan satu pedal. Dengan melepas pedal, maka daya pengereman terjadi, lampu rem menyala, tapi komponen yang berperan adalah dinamo, dan menghasilkan daya pengisian,” ucap Arif kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Level rem regeneratif bisa diatur sesuai kebutuhan, ada 3 level sampai dimatikan. Semakin tinggi levelnya, daya listrik yang dihasilkan dari rem regeneratif lebih banyak dan efek engine brake lebih terasa. “Ketika rem regeneratif dinonaktifkan, mobil bisa meluncur saat pedal gas dilepas, tapi bila aktif, pedal gas dilepas sama saja mengerem. Ini mungkin sedikit kurang nyaman bagi pengendara yang belum terbiasa,” ucap Arif. Impresi berkendara Omoda O9 Padahal, dengan tidak mengaktifkan rem regeneratif, maka daya listrik bisa lebih cepat habis karena tidak ada pengisian daya selama mobil dioperasikan. “Tekanan ban terkesan sepele, tapi ini berpengaruh terhadap konsumsi daya listrik. Maka dari itu, pengemudi disuguhi fitur tire pressure monitoring system (TPMS) sehingga ketika ada ban yang kurang angin bisa segera diisi,” ucap Arif. Nah, itu tadi kebiasaan buruk pengemudi yang bisa bikin jarak tempuh mobil listrik lebih pendek, mulai dari mengabaikan tekanan ban, mematikan rem regeneratif, menyetel AC terlalu dingin, dan berkendara agresif. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang