Meningkatnya penggunaan mobil listrik di Indonesia membawa perubahan besar dalam pola berkendara, terutama terkait karakter akselerasi dan teknologi keselamatan yang lebih canggih. Namun di balik kecanggihannya, mobil listrik menyimpan tantangan baru karena akselerasinya yang sangat responsif. Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, pemahaman karakter kendaraan menjadi kunci utama keselamatan, karena teknologi secanggih apa pun tidak akan efektif tanpa kesadaran dan kewaspadaan saat berkendara. Sony menjelaskan, fenomena Sudden Unintended Acceleration (SUA) merupakan kondisi ketika pedal gas terinjak penuh tanpa disengaja, sehingga mobil bisa melaju tiba-tiba dan sulit dikendalikan. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang memicu kejadian ini. “Pertama, faktor eksternal seperti karpet tambahan yang tersangkut ke pedal gas. Kedua, kelalaian pengemudi yang salah injak pedal gas akibat panik, biasanya terjadi dalam kondisi tekanan tinggi seperti saat parkir atau bermanuver. Ketiga, malfunction pada sistem komputer EV itu sendiri,” kata Sony kepada Kompas.com, belum lama ini. Test drive mobil listrik Jaecoo J5 EV di GIIAS 2025 Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mobil listrik modern dengan teknologi semi otonom level 2 hingga 4 umumnya sudah dilengkapi fitur Emergency Auto Brake (EAB) untuk membantu mengurangi risiko tabrakan. “Biasanya mobil-mobil autonomous terutama level 2–4 sudah dilengkapi EAB (Emergency Auto Brake), yang otomatis ngerem ketika sensor menangkap ada objek di depannya. Mungkin tabrakan bisa dihindari, tapi tidak sampai fatal,” kata Sony. Meski demikian, Sony mengingatkan bahwa teknologi tersebut belum sepenuhnya sempurna. Dalam kondisi tertentu, sensor bisa mengalami gangguan atau malfunction, terutama jika pengemudi terlalu bergantung pada fitur otomatis dan tidak sigap mengambil alih kendali. "Fitur-fitur keselamatan ini sebenarnya user friendly untuk pemula atau wanita, tapi sayang belum sempurna banget atau bahkan terjadi malfungtion," kata Sony. Sony menambahkan, mobil listrik memiliki karakter torsi instan, yakni tenaga langsung tersalur begitu pedal gas diinjak sedikit saja. Hal ini membuat kendaraan sangat responsif dan berpotensi menyebabkan kehilangan kendali dalam waktu singkat jika pengemudi belum terbiasa. Maka dari itu, ia menyarankan pengemudi pemula untuk melakukan orientasi singkat sebelum digunakan di jalan raya. Langkah ini penting untuk memahami sensitivitas pedal serta karakter akselerasi mobil listrik. “Para pengemudi mobil listrik, terutama pemula, sebaiknya melakukan orientasi selama lima menit dengan cara berkendara pelan. Hal ini dimaksudkan agar bisa merasakan sensitivitas pedal serta akselerasi mobil listrik,” katanya. Selain itu, pengemudi juga perlu memahami respons kendaraan saat pedal gas dilepas, termasuk efek pengereman regeneratif yang bekerja otomatis. Tak kalah penting, gaya berkendara juga harus disesuaikan dengan karakter mobil listrik. Sony mengingatkan agar selalu menerapkan defensive driving guna meminimalkan risiko kecelakaan. “Terapkan juga gaya berkendara defensif yang bisa meminimalisir risiko Suddenly Unintended Acceleration (SUA),” ujar Sony. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang