Menghindari rute dengan tanjakan ekstrem merupakan langkah bijak demi keselamatan dan keawetan kendaraan. Tanjakan sangat curam memaksa mobil bekerja pada beban maksimum dalam waktu lama. Kondisi ini meningkatkan risiko overheat dan mempercepat keausan komponen. Imun, pemilik bengkel Spesialis Ford Trucuk Klaten mengatakan bila tidak darurat, tanjakan ekstrem seperti di jalur alternatif menuju Dieng, atau Gunung Kidul, sebaiknya dihindari karena berisiko. “Risiko mobil kehilangan tenaga di tengah tanjakan cukup tinggi. Jika kendaraan berhenti mendadak, mobil bisa mundur, membahayakan diri, penumpang dan kendaraan lain di belakang,” ucap Imun kepada KOMPAS.com, Selasa (17/2/2026). Saat beban mesin meningkat, maka sistem pendingin akan bekerja keras. Jika radiator atau kipas tidak optimal, mesin bisa mengalami overheating dalam waktu singkat. Selain itu, transmisi dan kopling bakal menerima tekanan besar. Pada mobil manual, kopling bisa cepat habis akibat penggunaan setengah kopling, sedangkan mobil matik berisiko mengalami panas berlebih pada oli transmisi. Tanjakan Spongebob di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat menjadi pilihan jalan alternatif ratusan kendaraan wisatawan untuk melangsungkan perjalanan arus balik menuju Kota Bandung, Senin (1/1/2024). “Kemampuan rem menjadi taruhan. Menahan mobil di tanjakan curam membutuhkan pengereman konstan yang dapat menyebabkan rem panas dan kehilangan daya cengkeram,” ucap Imun. Tanjakan ekstrem juga sering memiliki badan jalan sempit, rusak, atau licin. Kondisi ini meningkatkan risiko selip, terutama saat hujan atau membawa muatan berat. Faktor keselamatan penumpang harus diutamakan. Rute ekstrem meningkatkan potensi kecelakaan, terutama bagi pengemudi yang belum berpengalaman. Angkot trayek Petir-Laladon terguling usai gagal menanjak di wilayah Dramaga, Kabupaten Bogor, Kamis (4/12/2025). Tangkapan layar video akun Instagram @metrobogor_ Marcell Kurniawan, Training Director Real Driving Centre (RDC) mengatakan seorang pengemudi yang defensive dan kompeten, akan memiliki sikap yang benar untuk meminimalisir risiko. “Caranya dengan tidak mengambil risiko, mengetahui karakteristik kendaraan dan peruntukannya sesuai jalur yang ditempuh,” ucap Marcell kepada KOMPAS.com, Rabu (18/2/2026). Dalam hal keselamatan, ada 3 hal yang perlu diperhatikan, yaitu manusia, kendaraan dan metode mengemudi. “Kalau kendaraan sudah mumpuni sekalipun, tetap harus memiliki metode atau skill untuk pengoperasian kendaraan di medan masing-masing, dan pengemudi harus memiliki sikap yang benar dan aman,” ucap Marcell. Namun, ketika pengemudi memiliki sikap ceroboh, tidak berkeselamatan, seperti sengaja mengambil risiko, kendaraan tidak mumpuni, dan mungkin pengemudi belum mahir, ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Maka dari itu, memilih jalur alternatif yang lebih landai dan aman jauh lebih disarankan, meskipun jaraknya sedikit lebih jauh. Keselamatan dan kondisi kendaraan tetap menjadi prioritas utama. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang