Mobil listrik dikenal memiliki konsumsi energi yang efisien dan biaya operasional lebih rendah. Namun, penggunaan dengan gaya berkendara agresif bisa membuat daya baterai lebih cepat habis dan jarak tempuh menjadi berkurang. Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) Jayan Sentanuhady mengatakan, mobil listrik atau battery electric vehicle (BEV) bisa terasa boros jika konsumsi daya baterainya tidak sebanding dengan jarak tempuh yang dihasilkan. “Misal klaim dari pabrikan suatu BEV diklaim bisa menempuh jarak 500 kilometer dalam sekali pengecasan, tapi faktanya hanya 300 kilometer atau dibawahnya, ini akan memberikan kesan mobil ini boros,” ucap Jayan kepada Kompas.com, belum lama ini. Menurut Jayan, kondisi tersebut tidak selalu menandakan adanya masalah pada kendaraan. Konsumsi daya mobil listrik sangat dipengaruhi oleh gaya berkendara, kondisi jalan, hingga metode pengujian yang digunakan pabrikan. Test drive mobil listrik Jaecoo J5 EV di GIIAS 2025 Ia menjelaskan, pengujian jarak tempuh mobil listrik seperti WLTP, EPA, dan NEDC dilakukan dalam kondisi ideal, sehingga hasilnya bisa berbeda dengan penggunaan harian di jalan raya. “Contoh, pengujian standar pabrik umumnya pada suhu udara relatif stabil antara 23-25 derajat Celcius, jalan datar, akselerasi halus, kecepatan rata-rata konstan, penumpang hanya driver saja atau dengan 1 penumpang, hasilnya tentu sangat irit,” ucap Jayan. Sementara dalam penggunaan nyata, mobil listrik sering digunakan di kondisi jalan macet, membawa banyak penumpang, hingga dipacu dengan akselerasi tinggi yang membuat konsumsi listrik lebih besar. Jayan mengatakan, karakter torsi instan pada mobil listrik juga membuat banyak pengemudi tergoda untuk sering melakukan akselerasi spontan. Padahal, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab baterai mobil listrik lebih cepat terkuras. “Padahal konsumsi daya listrik paling besar terjadi ketika awal jalan, selain beban menggerakkan mobil berat, butuh daya lebih, gas pol juga akan menguras daya lebih banyak,” ucap Jayan. Selain itu, kebiasaan mengemudi agresif dan sering melaju dalam kecepatan tinggi juga dapat membuat efisiensi baterai mobil listrik menurun sehingga jarak tempuh menjadi lebih pendek. “Mobil listrik yang kerap dipakai ngebut sampai kecepatan tinggi juga bisa lebih boros, karena daya listrik akan terkuras lebih banyak, waktu tempuhnya bisa lebih cepat tapi jarak lebih pendek,” ucap Jayan. Tidak hanya gaya berkendara, penggunaan AC mobil listrik juga berpengaruh terhadap konsumsi daya baterai, terutama saat suhu diatur terlalu dingin atau kendaraan digunakan di cuaca panas. “Komponen AC mobil listrik akan membebani baterai, sehingga daya listrik akan terus terkuras selama AC hidup, makin dingin target yang harus dicapai, beban kerjanya makin berat,” ucap Jayan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang