– Musim hujan kerap membuat tampilan motor cepat kusam, terutama pada bagian ban. Air hujan, lumpur, dan sisa kotoran di jalan sering meninggalkan noda, sehingga banyak pemilik motor memilih menggunakan semir ban agar tampilannya kembali hitam dan mengilap. Ban motor yang retak karena ozon crack Namun, sebaiknya penggunaan semir ban jangan sembarangan. Selain soal tampilan, pemilihan produk semir ban juga berkaitan dengan keamanan dan keawetan ban itu sendiri. Brand Manager PT Gajah Tunggal Tbk, produsen ban IRC, Dodiyanto, mengatakan bahwa pada dasarnya semir ban bukanlah kebutuhan utama, melainkan aksesori penunjang tampilan. “Semir ban itu sebenarnya lebih ke aksesori. Biasanya banyak ditemukan saat cuci motor atau cuci mobil. Karena sifatnya aksesori, materialnya sering kali hanya pelapis saja,” kata Dodiyanto kepada Kompas.com, Selasa (3/2/2026). Ban motor IRC dan Zeneos kini hadir tanpa pembungkus plastik Dodi mengatakan, saat ini pasaran terdapat beragam produk semir ban, mulai dari yang bermerek hingga yang dijual tanpa identitas jelas. Produk bermerek umumnya mencantumkan informasi kandungan secara lengkap di kemasan. “Ada produk yang bermerek dan jelas kandungannya. Di kemasan biasanya tertulis komposisinya, kandungan airnya berapa persen, dan bahan lainnya,” ujarnya. “Sementara yang tidak bermerek, banyak juga yang hanya sekadar cairan untuk mengilapkan ban. Nah, ini yang perlu diperhatikan, karena kita tidak tahu kandungan apa saja yang dipakai untuk membuatnya mengilap,” kata Dodiyanto. Mengganti ban sepeda motor hendaknya diikuti penggantian pelek agar seimbang. Dody menjelaskan, produk pabrikan yang bermerek biasanya sudah melewati serangkaian pengujian sebelum dipasarkan. Pengujian ini penting untuk memastikan cairan semir tidak merusak material ban dalam jangka panjang. “Kalau produk pabrikan yang bermerek, biasanya sudah melalui proses pengujian. Mereka tidak sembarangan mengeluarkan produk. Pasti ada pengetesan, misalnya diuji di ban selama beberapa hari, dilihat apakah ada efek samping atau tidak,” ujarnya. “Kalau produk yang tidak bermerek, kita tidak tahu kandungan airnya berapa persen dan bahan lainnya apa. Banyak dijual di luar, botolan tanpa identitas jelas,” kata Dodi. Ilustrasi mekanik mengecek ban motor Dodi mengingatkan, ban terbuat dari karet yang sifatnya lentur dan sensitif terhadap bahan kimia tertentu. Jika sering terpapar zat kimia yang keras, ban bisa rusak. “Karena karet itu benda lembut, kalau ketemu zat kimia yang reaktif, lama-lama bisa mengeras atau rusak. Makanya kami menyarankan pakai produk yang bermerek, jelas diproduksi di mana, ada sertifikasinya,” ujarnya. Ia menegaskan, pemilik motor sebaiknya tidak hanya mengejar tampilan ban yang mengilap, terutama di musim hujan. “Karena karet bertemu bahan kimia, kita harus tahu kandungannya apa. Kalau jelas bahan bakunya, risikonya lebih kecil,” kata Dodi. Dodi mengatakan, salah satu kesalahan yang kerap dilakukan pengendara motor tanpa disadari adalah langsung menggunakan motor setelah ban disemir usai dicuci. “Untuk motor, yang paling sering terjadi itu semir ban mengenai telapak ban. Kadang setelah dicuci dan disemir, langsung dipakai menikung, padahal cairannya belum hilang dari telapak ban. Ini berbahaya,” katanya. Menurut Dodi, cairan semir ban memiliki sifat licin karena memang dirancang untuk memberikan efek kilap. Tujuan semir ban itu sebenarnya hanya untuk estetika, bukan untuk meningkatkan fungsi ban. Jadi jangan sampai demi tampilan, justru mengorbankan keselamatan,” ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang