Insiden pecah ban yang dialami beberapa kendaraan di ruas Tol Cikopo–Palimanan (Cipali) kembali menjadi sorotan, setelah pengendara mengeluhkan kondisi jalan berlubang di jalur arah Cirebon. Berdasarkan informasi yang dibagikan pemilik Instagram @kangsef, sedikitnya terdapat tiga kendaraan mengalami pecah ban di lokasi yang sama, tepatnya di sekitar KM 139, dengan rentang jalan berlubang disebut terjadi sejak KM 129 hingga KM 140. Sustainability Management & Corporate Communications Dept. Head Astra Tol Cipali, Ardam Rafif Trisilo menjelaskan, kejadian tersebut seiring dengan tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir, yang berpotensi memicu kerusakan permukaan jalan. "Kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pengguna jalan akibat adanya lubang di beberapa titik di ruas tol yang antara lain dipengaruhi oleh cuaca ekstrem dan tingginya curah hujan beberapa hari terakhir," katanya dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com, Kamis (8/1/2025). "Kami memastikan bahwa penanganan dan bantuan di lapangan terhadap pengguna jalan yang mengalami kendala pecah ban pada Rabu, 7 Januari 2026, telah dilakukan dengan baik," lanjut Ardam. Meski pengelola tol menyatakan telah melakukan penanganan dan pemasangan rambu peringatan, insiden ini menunjukkan bahwa dampak lubang jalan di ruas tol berkecepatan tinggi dapat berujung pada kerusakan ban serius dalam waktu singkat. Menanggapi karakter kerusakan ban yang sering terjadi dalam kondisi seperti ini, Head of Original Equipment (OE) Bridgestone Indonesia, Fisa Rizqiano, memberikan penjelasan mengenai penyebab kerusakan pada ban. Menurutnya, kerusakan pada dinding ban yang terjadi secara menyeluruh, baik pada bagian karet maupun benang di dalam ban, umumnya karena tergilas bibir pelek. Kondisi ini bisa muncul saat tekanan udara dalam ban sudah sangat rendah. Pecah ban dapat terjadi salah satunya disebabkan oleh muatan berlebihan. “Hal ini memungkinkan terjadi jika kondisi sangat kurang, bahkan habis sama sekali atau zero pressure. Kondisi kerusakan ini dinamakan Flat Running,” ujar Fisa, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Saat ban dipaksa tetap berjalan dengan tekanan udara yang hampir habis, beban kendaraan hanya bertumpu pada struktur samping ban. Akibatnya, struktur tersebut tidak mampu lagi menahan beban dan akhirnya robek ketika bersentuhan langsung dengan bibir pelek, terlebih ketika ban menghantam lubang jalan dengan benturan keras. Lebih lanjut, Fisa mengatakan bahwa faktor penyebab tekanan angin bisa berkurang atau bahkan habis perlu diperiksa lebih mendalam. Kondisi ini tidak selalu disebabkan karena usia ban atau kualitas material semata. “Kenapa angin bisa sangat kurang atau habis, ini yang harus diperiksa, perlu pengecekan fisik. Apakah ada luka atau sobek, pernah ditambal, pentil bocor atau sebab lainnya,” kata Fisa. Ilustrasi ban mobil pecah. Ban Pecah di Jalan Tol Bisa Klaim Ganti Rugi ke Jasa Marga, Ini Caranya Oleh karena itu, menjaga tekanan ban sesuai dengan rekomendasi pabrikan menjadi hal yang sangat penting, terutama saat berkendara di jalan tol. Tekanan ban yang ideal membantu struktur ban bekerja optimal dalam menopang beban kendaraan dan meredam benturan dari permukaan jalan. mobil modern, keberadaan fitur Tyre Pressure Monitoring System (TPMS) dapat memudahkan pengemudi memantau kondisi tekanan ban secara berkala. Namun, bagi yang belum dilengkapi fitur ini, pengecekan tekanan ban secara manual tetap menjadi langkah pencegahan paling efektif. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang