Pecah ban merupakan salah satu kondisi darurat paling berbahaya, terutama jika yang pecah adalah ban bagian depan. Tak sedikit kecelakaan berujung mobil terbalik akibat pecah ban depan. Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa risiko besar dari pecah ban depan berkaitan erat dengan perubahan beban kendaraan serta reaksi spontan pengemudi. "Hal ini terjadi karena saat kendaraan diperlambat terlebih ketika direm, beban kendaraan akan berpindah ke roda depan," kata Jusri kepada Kompas.com, Kamis (8/1/2026). Tangkapan layar dari Instagram @seputartangsel yang menunjukkan kecalakaam mobil di Jalan Tol Jakarta-Serpong, Kamis (3/4/2025). Masalah muncul ketika ban depan yang menanggung beban lebih besar justru berada dalam kondisi rusak atau pecah. "Pada kondisi ban depan pecah, perbedaan tinggi roda menimbulkan gaya tarik ke arah roda yang lebih rendah. Semakin besar perlambatan yang dilakukan, semakin besar pula gaya yang menarik kendaraan ke arah tersebut," ujarnya. Jusri, yang pernah menimba ilmu berkendara di Rob Slotermaker Skid Control School, Zandvoort, Belanda, memberi gambaran sederhana yang kerap terjadi di jalan raya. "Sebagai contoh, jika ban depan kanan pecah, maka saat pengemudi memperlambat laju, akan muncul gaya yang menarik kendaraan ke kanan," katanya. Menurut Jusri, banyak pengemudi keliru mengira gaya tarik tersebut akan hilang saat setir diluruskan atau dibelokkan. Sebuah mobil mewah, Porsche mengalami rusak parah setelah menabrak guardrail di Tol Pasuruan-Probolinggo, Minggu (16/11/2025). "Gaya ini tetap ada meski setir dalam posisi lurus atau sudah dibelokkan. Dalam kondisi panik, pengemudi biasanya kembali menginjak rem, yang justru memperbesar gaya tarik tersebut," katanya. Situasi menjadi semakin berbahaya ketika pengemudi bereaksi secara refleks dengan membanting setir ke arah berlawanan. "Pada saat pengereman keras dan setir dibelokkan secara tiba-tiba, kendaraan cenderung tetap bergerak lurus mengikuti arah momentum, bukan arah roda kemudi. Akibatnya, mobil terasa seperti ditarik ke kanan, padahal sebenarnya masih melaju lurus," ujarnya. Risiko belum sepenuhnya hilang meski kecepatan kendaraan sudah melambat, terutama pada kendaraan dengan dimensi tinggi. Sebuah truk mengalami kecelakaan tunggal di Tol JOR KM 50.300 Cikunir, Kota Bekasi, arah Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (14/6/2025). "Pada kecepatan rendah, posisi roda depan yang sudah dibelokkan penuh ke kiri dapat membuat kendaraan menjadi limbung. Kondisi ini sangat berisiko pada kendaraan dengan dimensi tinggi, seperti SUV, MPV besar, truk, atau bus," kata Jusri. Bahaya lain muncul ketika pengemudi tiba-tiba melepas pedal rem setelah kecepatan turun drastis. "Ketika kecepatan sudah melambat lalu rem dilepas secara tiba-tiba, bagian depan kendaraan bisa mengalami efek memantul atau bouncing," ungkapnya. "Pantulan tersebut dapat membuat kendaraan terangkat dan akhirnya terbalik ke arah sisi ban yang pecah," kata Jusri. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang