Konflik di jalan raya bisa muncul kapan saja, bahkan dari persoalan yang terlihat sepele. Risikonya pun tidak main-main, sebab tidak ada yang tahu pasti kondisi mental pengemudi lain yang tengah dihadapi. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting Jusri Pulubuhu membagikan sejumlah prinsip yang bisa dipegang pengendara agar terhindar dari konflik di jalan. Tiga Syarat Utama Berkendara Jusri menegaskan, ada tiga hal mendasar yang perlu dipegang setiap orang saat berkendara, yakni terampil, tertib, dan empati. Ilustrasi cekcok di jalan, road rage, ribut "Kalau di jalan, persyaratan kita berkendara, pertama terampil, kedua tertib, ketiga empati," ujar Jusri kepada Kompas.com, Selasa (18/8/2026). Dari ketiganya, ia menyoroti empati sebagai unsur yang paling menentukan ketika berhadapan dengan situasi yang berpotensi memicu konflik dengan pengendara lain. Jangan Menghakimi Perilaku Orang Lain Jusri mengingatkan, ketika melihat perilaku pengendara lain yang dinilai tidak sesuai aturan, hukum, etika, maupun adat, sebaiknya tidak serta-merta melakukan koreksi terhadap orang tersebut. "Tolong jangan mengkoreksi orang tersebut, agar dia sesuai aturan," katanya. Menurutnya, yang berwenang menentukan benar atau salahnya sebuah tindakan bukanlah sesama pengguna jalan, melainkan pihak yang berwenang secara hukum. "Yang mengatur, yang menegaskan bahwasanya dia tidak tepat, tidak benar, itu bukan kita, tapi hakim di pengadilan. Artinya apa? Anda jangan menghakimi orang lain," ujarnya. Ia menjelaskan, tindakan menghakimi orang lain berisiko memunculkan ego yang jika sudah melampaui batas, dapat mendorong seseorang bertindak melawan secara berlebihan. "Ketika Anda menghakimi, maka akan muncul yang namanya ego-ego psikis. Ketika ego ini melampaui, maka yang terjadi Anda akan bertindak melawan," katanya. Sabar dan Mengalah Jadi Kunci Selain tidak menghakimi, Jusri menekankan pentingnya sikap sabar dan memilih mengalah ketika berhadapan dengan situasi yang berpotensi memicu gesekan di jalan. "Anda harus sabar. Sabar, mengalah saja. Karena kalau tidak mengalah, akan terjadi konflik, akan terjadi gesekan," ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa setiap pengguna jalan pada dasarnya tidak memiliki wewenang untuk mengambil alih peran pihak berwenang, sekalipun merasa berada di pihak yang benar. Jusri mengingatkan bahwa tujuan utama setiap orang saat berkendara sesungguhnya sederhana, yakni sampai tujuan dan kembali ke rumah dengan selamat. "Tugas Anda adalah pulang ke rumah dengan selamat, tepat waktunya, dan berkumpul kembali di rumah. Karena keluarga menunggu kalian," ujar Jusri. Prinsip ini, menurutnya, penting untuk selalu diingat setiap kali muncul godaan untuk terlibat dalam perdebatan atau konflik dengan pengendara lain di jalan.