Sebuah video yang memperlihatkan pelek mobil pecah usai menghajar lubang di jalan tol Pejagan-Pemalang, beredar luas di media sosial. Video tersebut menjadi viral karena setelah pecah pelek, pengemudi mobil dalam unggahan itu meminta pertanggungjawaban dan ganti rugi kepada pengelola jalan tol. Vian, pengemudi yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut, mengatakan insiden terjadi saat dia melaju dengan kecepatan sekitar 80 Km/jam pada pukul 04.00 WIB. Lubang berada di tengah lajur, sementara kondisi penerangan yang minim membuatnya tidak terlihat. Video TikTok: https://www.tiktok.com/@mobil_dagangan/video/... Peristiwa semacam ini sebenarnya sering terjadi. Tak sedikit pengemudi mengalami kejadian serupa saat melintas di jalan tol, mulai dari pelek peyang hingga ban pecah setelah menghantam lubang. Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengatakan, jarak pandang yang cukup menjadi syarat penting dalam berkendara, terutama pada malam atau dini hari. Dengan jarak pandang yang memadai, pengemudi memiliki waktu untuk membaca kondisi jalan dan memahami situasi di depan. Hal ini memberi ruang guna menentukan langkah paling aman saat ada lubang di jalan. Pilihan yang bisa diambil dalam kondisi itu bisa beragam, mulai dari menghindar, melewati lubang dengan perhitungan tertentu, hingga menyesuaikan kecepatan secara terkontrol. Jalan Tol Solo?Yogyakarta?NYIA Kulon Progo “Jika terpaksa menghindari lubang tersebut, hal pertama yang harus dilakukan yaitu mengecek spion. Karena ada bahaya lain dari samping dan belakang kita yang tidak bisa diketahui kalau tidak lihat spion,” kata Jusri kepada Kompas.com, Kamis (29/1/2025). Menurut Jusri, menghindari lubang tidak boleh dilakukan secara spontan. Pengemudi perlu memastikan kondisi lalu lintas di sekitar kendaraan benar-benar aman sebelum melakukan manuver, agar tidak memicu risiko kecelakaan lain. Apabila kondisi lalu lintas tidak memungkinkan untuk menghindar, pengemudi disarankan memperkirakan ukuran dan kedalaman lubang. Kemudian untuk lubang yang relatif kecil justru jangan mengerem atau mengurangi kecepatan secara mendadak. Jalanan berlubang di Flyover Pesing, Daan Mogot, Jakarta Barat yang diduga menyebabkan insiden pecah ban dan kebocoran sejumlah kendaraan, Jumat (9/1/2026) “Kalau kecil lubangnya, tidak perlu kurangi kecepatan karena bisa menambah benturan yang terasa. Jadi sebaiknya mempertahankan kecepatan mobil agar roda depan tidak mengalami absorbsi yang besar," katanya. Dengan kecepatan yang stabil, suspensi masih bisa bekerja normal untuk meredam guncangan, sehingga risiko kerusakan pada pelek, ban, maupun komponen kaki-kaki kendaraan dapat ditekan. Jusri menjelaskan, saat pengemudi mengerem mendadak, beban kendaraan akan berpindah ke bagian depan. Kondisi ini membuat suspensi depan menerima tekanan lebih besar ketika roda menghantam lubang. “Karena jika mengurangi kecepatan, berat mobil akan berpindah ke depan, sehingga benturannya saat menubruk lubang menjadi besar. Kondisi ini membuat roda dan suspensi bagian depan menerima tekanan lebih tinggi,” kata Jusri. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang