Ilustrasi mengantuk saat mengemudi Saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), arus mudik dan wisata dipastikan meningkat. Kondisi jalan yang padat, perjalanan panjang, serta jadwal yang padat sering membuat pengemudi memaksakan diri tetap berkendara meski tubuh sudah lelah. Di sinilah bahaya microsleep mengintai. Microsleep adalah episode tidur singkat yang berlangsung dalam hitungan sepersekian detik hingga setengah menit. Meski sangat singkat, konsekuensinya bisa fatal karena saat microsleep terjadi, seseorang gagal merespons lingkungan di sekitarnya, bahkan meski matanya masih terbuka. Kondisi ini umumnya dipicu kurang tidur, tetapi tidak selalu demikian.Banyak kasus menunjukkan microsleep juga dialami orang yang melakukan pekerjaan monoton dalam waktu lama. Ketika microsleep terjadi saat berkendara, bahkan hanya dalam hitungan detik, risikonya bisa berujung kecelakaan serius. Itulah sebabnya kondisi ini disebut sebagai salah satu faktor utama penyebab kecelakaan lalu lintas. Dilansir VIVA Otomotif dari laman Kementerian Kesehatan, Sabtu 27 Desember 2025, secara umum, penyebab microsleep berhubungan erat dengan gangguan tidur yang membuat kualitas istirahat terganggu, pola kerja shift malam yang memaksa tubuh bekerja melawan ritme alami, kondisi tubuh yang memiliki “utang tidur” karena sering begadang, hingga efek samping dari pengobatan tertentu yang memicu kantuk berat.Kombinasi faktor-faktor inilah yang kerap terjadi saat momen liburan, ketika banyak orang memaksakan perjalanan jauh tanpa persiapan istirahat yang cukup. Microsleep juga bisa dikenali dari sejumlah tanda-tanda yang sebenarnya cukup jelas. Pengemudi biasanya mulai merasakan mata sangat berat hingga sulit dibuka, sering menguap, dan harus berkedip pelan atau berulang-ulang hanya untuk tetap terjaga. Tak jarang, mereka kehilangan ingatan terhadap kejadian satu hingga dua menit terakhir dan bahkan tidak menyadari sesuatu baru saja terjadi di jalan. Kemampuan memahami informasi pun menurun, kepala tanpa sadar menunduk karena rasa kantuk, lalu tersentak bangun dengan gerakan tubuh tiba-tiba. Jika gejala seperti ini muncul di balik kemudi, itu berarti tubuh sudah memberi sinyal bahaya.Risikonya tidak main-main. Microsleep membuat pengemudi kehilangan kesadaran sesaat sehingga sangat berpotensi menyebabkan kecelakaan. Dalam kondisi normal, otak mampu menangkap dan memproses berbagai stimulus dengan baik. Namun saat kelelahan, konsentrasi menurun tajam dan otak hanya merespons stimulus yang sangat kuat, sementara situasi di jalan membutuhkan kewaspadaan penuh setiap detik.Itulah mengapa tertidur saat berkendara menjadi salah satu penyebab kecelakaan terbesar. Dampaknya bukan hanya kerugian materi, tetapi juga bisa berujung kematian.Untuk mengurangi risiko tersebut saat libur Natal dan Tahun Baru, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Mengonsumsi kopi bisa membantu, namun perlu diingat efek kafein baru bekerja sekitar 30 menit setelah diminum sehingga sebaiknya dikonsumsi sebelum perjalanan dimulai, bukan saat kondisi sudah sangat lelah.Pengemudi juga disarankan tetap beraktivitas agar tidak monoton, misalnya mengobrol dengan penumpang, bergerak ringan, atau bila memungkinkan memilih moda transportasi umum sehingga tidak terus-menerus duduk di balik kemudi. Yang terpenting, pastikan tidur cukup selama 7 hingga 9 jam sebelum bepergian agar tubuh dan pikiran tetap segar.Jika rasa kantuk mulai muncul, segera menepi dan beristirahat sejenak, terutama saat perjalanan jarak jauh yang idealnya diselingi istirahat setiap satu hingga dua jam.Mengemudi dalam kondisi lelah jelas berbahaya karena langsung memengaruhi konsentrasi. Istirahat sebelum perjalanan, memanfaatkan kafein secara tepat, dan tidak memaksa diri saat tanda-tanda microsleep mulai muncul bisa mencegah pengemudi tertidur di balik kemudi. Namun faktanya, tidak semua orang mampu melakukan langkah penyegaran saat tubuh sudah kelelahan, padahal mendeteksi microsleep lebih dini merupakan langkah penting untuk mencegah kecelakaan lalu lintas.