Jika diperhatikan dari berbagai kasus kecelakaan lalu lintas di jalan tol, tabrakan beruntun paling sering terjadi di lajur kanan alias lajur mendahului (overtake lane). Mulai dari benturan ringan antar-kendaraan hingga kecelakaan karambol yang melibatkan belasan mobil sekaligus, mayoritas titik kejadiannya berada di lajur paling cepat ini. Lantas, mengapa lajur kanan seolah menjadi "langganan" lokasi terjadinya tabrakan beruntun? Beban Intimidasi dan Tekanan Psikis Pengemudi Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa ada kondisi psikologis yang membedakan pengemudi di lajur cepat dengan lajur lainnya. Sejumlah kendaraan terlibat kecelakaan beruntun di Jalan TL Legenda, Desa Lambang Sari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Senin (13/4/2026) sore. Di lajur satu, dua, atau tiga, kecepatan kendaraan cenderung lebih konstan dan pengemudi berada dalam kondisi emosional yang relatif lebih tenang (settle). Namun, situasi mendadak berubah ketika pengemudi berpindah ke lajur paling kanan. "Kondisi psikologi seseorang ketika ada di jalur cepat atau mendahului itu berbeda. Di lajur lain, mereka constant speed rata-rata, tidak ada beban intimidasi. Tapi di lajur cepat, secara psikis ada beban intimidasi—kesannya harus buru-buru," ujar Jusri kepada Kompas.com, Jumat (24/7/2026). Intimidasi ini tidak selalu datang dari klakson atau lampu tembak kendaraan lain, melainkan tekanan mental saat melihat kendaraan di belakang menguntit sangat rapat (tailgating). Tegang Hingga Lupa Jarak Aman Tekanan psikologis akibat merasa "dikejar" mobil di belakang membuat konsentrasi pengemudi di lajur kanan terpecah. Pengemudi cenderung memprioritaskan kecepatan agar tidak menghalangi laju kendaraan lain, tetapi abai terhadap prinsip dasar keselamatan, yaitu memelihara jarak aman. Jusri mengibaratkan kondisi pengemudi di lajur cepat seperti tim sepak bola yang terlalu asik menyerang hingga melupakan area pertahanan. "Karena tegang dan fokus harus cepat gara-gara mobil di belakang nempel, akhirnya ada area bolong yang mereka lupa untuk konsentrasi, misalnya terhadap jarak aman. Saat itulah ketika mobil di depan mendadak mengerem, pengemudi tidak siap," jelas Jusri. Kecepatan Tinggi dan Besar Gaya Inersia Faktor berikutnya yang membuat tabrakan di lajur kanan berdampak fatal adalah kombinasi antara kecepatan tinggi dan gaya inersia. Ketika beberapa kendaraan melaju beriringan (tandem) dalam kecepatan tinggi di lajur kanan, jarak reaksi pengemudi menjadi sangat sempit. Jika kendaraan paling depan melakukan pengereman mendadak, mobil-mobil di belakangnya hampir tidak memiliki waktu maupun ruang yang cukup untuk berhenti secara aman. "Kecepatan tinggi itu linear dengan inersia. Kalau sudah tiga atau empat mobil tandem di lajur cepat, otomatis efek karambol yang mungkin terjadi itu sangat tinggi. Begitu satu mengerem mendadak, langsung kena semua," kata Jusri. Oleh karena itu, Jusri mengingatkan bahwa lajur kanan murni diperuntukkan hanya untuk mendahului. Setelah selesai menyalip, pengemudi disarankan untuk segera kembali ke lajur kiri atau tengah guna menjaga jarak aman serta terhindar dari tekanan psikis di lajur cepat.