Memberikan kendaraan kepada anak untuk digunakan sendiri tentu membuat orang tua perlu menetapkan sejumlah aturan. Hal ini penting agar anak memahami bahwa menggunakan kendaraan bukan sekadar soal bisa mengendarai, tetapi juga harus disertai tanggung jawab. Mengutip Kompas.com, di Kota Solo, Jawa Tengah, sekitar separuh pelaku dan korban tabrakan lalu lintas merupakan anak muda berusia 15 hingga 29 tahun. Artinya, kelompok usia muda memang menjadi salah satu kelompok yang paling rentan dan berkontribusi besar terhadap kecelakaan lalu lintas. Kondisi tersebut membuat peran orang tua tetap penting ketika anak mulai diberikan akses untuk menggunakan kendaraan sendiri. Batasan diperlukan bukan untuk menghambat mobilitas anak, melainkan membantu mereka memahami risiko dan membentuk kebiasaan berkendara yang aman. Orang Tua Perlu Memberikan Batasan yang Jelas kepada Anak Head of Safety Riding Promotion Wahana Agus Sani mengatakan, orang tua sebaiknya memberikan batasan yang jelas kepada anak. Namun, batasan tersebut bukan berarti melarang anak menggunakan kendaraan. Ilustrasi belajar mengemudi. "Menurut saya perlu, jadi batasan itu bukan berarti melarang anak berkendara, tapi membantu mereka belajar bertanggung jawab," ujar Agus kepada Kompas.com, Rabu (7/10/2026). Menurut Agus, aturan dapat dibuat berdasarkan kondisi dan kebutuhan anak. Misalnya, orang tua dapat mengatur waktu penggunaan kendaraan, kewajiban menggunakan helm, hingga batas kecepatan. Selain itu, anak juga perlu diberi pemahaman mengenai kapasitas kendaraan dan risiko membawa penumpang terlalu banyak. "Misalnya ada aturan soal waktu berkendara, penggunaan helm, kecepatan, tidak membawa teman berlebihan, dan tidak menggunakan ponsel saat berkendara," kata Agus. Bukan Melarang, Membentuk Tanggung Jawab Dengan adanya aturan tersebut, anak diharapkan tidak hanya mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi juga memahami alasan di balik setiap aturan. Pasalnya, ketika sudah mulai berkendara sendiri, anak tidak selalu berada dalam pengawasan orang tua. Ilustrasi mengemudi mobil matik. Karena itu, kebiasaan berkendara yang benar perlu dibentuk sejak awal. Orang tua juga bisa menyesuaikan aturan dengan usia, kemampuan, serta pengalaman anak. Jika anak sudah mampu memahami risiko dan konsisten menerapkan keselamatan berkendara, batasan tersebut dapat secara bertahap disesuaikan. Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, peran orang tua dalam membentuk perilaku berkendara anak justru sudah dimulai jauh sebelum anak mengendarai kendaraan sendiri. Menurut Jusri, anak mendapatkan banyak pelajaran mengenai lalu lintas dari apa yang dilakukan orang tuanya sehari-hari. "Kalau bicara tentang lalu lintas saat sekarang, itu pelajaran yang paling besar mereka dapat dari orangtuanya," ujar Jusri. Jusri mencontohkan, sejak kecil anak sudah terbiasa melihat bagaimana orang tuanya berkendara ketika mengantar mereka ke sekolah atau bepergian. Anak Cenderung Meniru Cara Orang Tua Berkendara Jika orang tua tidak menggunakan helm, menerobos lampu merah, atau melakukan pelanggaran lain ketika berkendara, perilaku tersebut bisa menjadi contoh yang melekat pada anak. "Orangtuanya nggak pakai helm, anak nggak pakai helm. Orangtuanya nerobos lampu merah, si anak ada di situ. Ini adalah pelajaran yang melekat bagi anak itu," kata Jusri. Karena itu, persoalannya bukan hanya apakah orang tua perlu membatasi penggunaan kendaraan atau tidak. Yang lebih penting adalah memastikan anak memahami bagaimana cara berkendara yang benar dan melihat langsung contoh tersebut dari orang tuanya. Selama anak sudah memahami aturan lalu lintas, mampu mengendalikan diri, menggunakan perlengkapan keselamatan, serta bertanggung jawab ketika berkendara, penggunaan kendaraan tidak harus selalu dibatasi secara berlebihan. Orang tua tetap bisa membuat aturan sesuai usia dan kemampuan anak. Namun, aturan tersebut sebaiknya menjadi bagian dari proses membangun kebiasaan berkendara yang aman, bukan sekadar larangan. Dengan begitu, ketika anak akhirnya berkendara tanpa didampingi, aturan keselamatan tetap dibawa karena sudah menjadi kebiasaan, bukan hanya karena takut ditegur atau dihukum orang tua.