Orang tua punya peran besar dalam membentuk kebiasaan anak, termasuk ketika berada di jalan raya. Cara orang tua menggunakan kendaraan, mematuhi aturan lalu lintas, hingga merespons situasi di jalan bisa menjadi contoh yang secara tidak langsung ditiru oleh anak. Head of Safety Riding Promotion Wahana Agus Sani mengatakan, anak tidak hanya belajar dari nasihat yang diberikan orang tua, tetapi juga dari kebiasaan yang mereka lihat sehari-hari. "Anak biasanya belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tapi juga dari apa yang mereka lihat," kata Agus kepada Kompas.com, Rabu (8/10/2026). Menurut Agus, kebiasaan sederhana seperti selalu menggunakan helm, tidak bermain ponsel ketika berkendara, tidak memacu kendaraan secara berlebihan, serta tertib berlalu lintas bisa menjadi pembelajaran bagi anak. "Kalau orang tua selalu pakai helm, tidak main HP saat berkendara, tidak ngebut dan tertib di jalan, anak juga akan melihat itu sebagai contoh," ujar Agus. Orang Tua Jadi Contoh Pertama Anak Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, pengaruh orang tua terhadap perilaku berkendara anak sangat besar karena orang tua menjadi salah satu sumber pembelajaran yang paling dekat dengan anak. Menurut Jusri, perilaku tersebut bisa melekat hingga anak tumbuh dewasa. Karena itu, orang tua perlu memahami keselamatan berkendara sebelum mengajarkan atau membiasakan anak menggunakan kendaraan. Artinya, pembelajaran keselamatan berkendara seharusnya tidak berhenti pada larangan atau perintah seperti memakai helm dan tidak ngebut. Anak juga akan melihat bagaimana orang tuanya menjalankan aturan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Jika orang tua meminta anak menggunakan helm, tetapi dirinya sendiri justru berkendara tanpa helm, pesan yang diterima anak bisa menjadi berbeda. Begitu pula ketika orang tua melarang anak bermain ponsel saat berkendara, tetapi melakukan hal yang sama ketika membawa kendaraan. Ilustrasi berkendara dengan Changan Deepal S07 Kebiasaan Kecil Bisa Ditiru Anak Konsistensi menjadi bagian penting dalam memberikan contoh kepada anak. Anak yang sejak kecil terbiasa melihat orang tuanya menggunakan perlengkapan keselamatan, menjaga kecepatan, menjaga jarak aman, serta tidak melakukan tindakan berbahaya di jalan akan memiliki referensi perilaku berkendara yang lebih baik. Sebaliknya, kebiasaan buruk yang dilakukan berulang kali juga berpotensi dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Jusri mencontohkan, masih ada orang tua yang membawa anak menggunakan sepeda motor tanpa perlengkapan keselamatan yang memadai atau bahkan membawa penumpang melebihi kapasitas. Ia menilai, perilaku seperti itu justru memberikan contoh yang keliru kepada anak mengenai keselamatan di jalan. "Kebiasaan orangtua jalan-jalan sore-sore tidak pakai helm, pakai celana pendek, gendong anaknya (sambil berkendara) di jalan, itu bahaya," kata Jusri. Karena itu, menurut Jusri, orang tua perlu terlebih dahulu memahami dasar-dasar keselamatan berkendara sebelum mengajarkannya kepada anak. Bukan hanya soal bagaimana mengoperasikan kendaraan, tetapi juga memahami risiko, perlengkapan keselamatan, aturan lalu lintas, serta cara mengambil keputusan yang aman ketika berada di jalan. Pada akhirnya, pendidikan keselamatan berkendara bagi anak tidak hanya dimulai ketika mereka sudah diperbolehkan membawa kendaraan sendiri. Pembelajaran tersebut sudah dimulai jauh sebelumnya, ketika anak melihat bagaimana orang tuanya berkendara setiap hari.