Proses belajar mengemudi tidak cukup hanya membuat anak bisa menjalankan kendaraan. Anak juga perlu memahami bagaimana membaca situasi, mengenali potensi bahaya, hingga mengambil keputusan yang aman ketika berada di jalan. Karena itu, peran orang tua tetap dibutuhkan ketika anak mulai belajar mengemudi. Pendampingan bukan berarti orang tua harus terus berada di samping anak, tetapi memastikan kemampuan dan kedisiplinan anak sudah cukup sebelum diberikan kepercayaan untuk berkendara sendiri. Dampingi Anak Belajar Mengemudi Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, pendampingan terhadap anak dalam proses belajar berkendara sangat diperlukan. Menurut Jusri, berkendara merupakan aktivitas yang memiliki risiko tinggi karena melibatkan kendaraan, kondisi jalan, serta pengguna jalan lainnya. "1.000 persen perlu. Mereka harus dibimbing. Masalahnya adalah high risk activity (aktifitas dengan risiko yang tinggi)," ujar Jusri, kepada Kompas.com, Rabu (7/10/2026). Jusri mengatakan, aktivitas berkendara menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat sehari-hari. Namun, tingginya kebutuhan terhadap kendaraan juga membuat kemampuan berkendara yang aman menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Karena itu, menurut Jusri, anak tidak seharusnya dibiarkan belajar dan memahami risiko berkendara sendirian. Ilustrasi mengemudi di jalan tol. Bukan Sekadar Menjalankan Kendaraan Head of Safety Riding Promotion Wahana Agus Sani mengatakan, orang tua memang perlu ikut mendampingi proses belajar mengemudi anak. Namun, menurut Agus, hal yang perlu diajarkan tidak sebatas cara mengoperasikan kendaraan. "Perlu, tapi yang diajarkan bukan hanya bagaimana menjalankan kendaraannya," ujar Agus. Anak juga perlu dibiasakan membaca situasi di jalan, mengantisipasi potensi bahaya, dan mengambil keputusan yang aman. "Anak juga harus diajarkan bagaimana membaca situasi, mengantisipasi bahaya dan mengambil keputusan yang aman," kata Agus. Kemampuan tersebut menjadi penting karena kondisi di jalan bisa berubah dengan cepat. Anak yang hanya memahami cara menggerakkan kendaraan belum tentu siap menghadapi situasi ketika kendaraan di depannya mengerem mendadak, ada kendaraan keluar dari persimpangan, atau muncul hambatan lain di jalan. Karena itu, proses belajar perlu diarahkan agar anak tidak sekadar mampu mengendalikan kendaraan, tetapi juga mampu memahami kondisi di sekitarnya. Ilustrasi pengendara motor Kepercayaan Berkendara Diberikan Bertahap Menurut Agus, setelah kemampuan dan kedisiplinan anak sudah cukup, orang tua dapat mulai memberikan kepercayaan secara bertahap. "Setelah kemampuan dan kedisiplinannya sudah cukup, baru secara bertahap diberikan kepercayaan untuk berkendara sendiri," ujar Agus. Artinya, orang tua tidak harus langsung memberikan kebebasan penuh begitu anak sudah bisa mengoperasikan kendaraan. Pendampingan dapat dilakukan dengan melihat perkembangan kemampuan anak, termasuk bagaimana mereka mematuhi aturan, mengendalikan kecepatan, menjaga fokus, serta mengambil keputusan ketika menghadapi situasi di jalan. Jika anak sudah menunjukkan kemampuan dan perilaku berkendara yang konsisten, maka ruang untuk berkendara sendiri dapat diberikan secara bertahap. Dengan cara tersebut, proses belajar mengemudi tidak berhenti ketika anak sudah bisa menjalankan kendaraan. Anak juga dibekali kemampuan untuk memahami risiko dan mengambil keputusan yang tepat sebelum benar-benar berkendara tanpa pendampingan.