Anak muda kerap dianggap sebagai salah satu kelompok yang rentan terlibat kecelakaan lalu lintas. Mengutip Kompas.com, Rabu (7/10/2026), bahkan di Kota Solo, Jawa Tengah, sekitar separuh pelaku dan korban tabrakan lalu lintas merupakan anak muda berusia 15 hingga 29 tahun. Artinya, kelompok usia muda memang menjadi salah satu kelompok yang paling rentan dan berkontribusi besar terhadap kecelakaan lalu lintas. Pengalaman berkendara yang masih terbatas, kepercayaan diri tinggi, hingga pengaruh lingkungan bisa membuat mereka mengambil keputusan yang berisiko. Namun, perilaku berkendara anak tidak terbentuk begitu saja. Lingkungan terdekat, terutama orang tua, punya peran besar dalam membentuk cara anak memahami keselamatan di jalan. Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, kelompok usia muda memang menjadi salah satu kontributor terbesar kecelakaan lalu lintas secara global. Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah anak muda masih berada dalam fase mencari eksistensi dan mudah terpengaruh lingkungan. "Di usia-usia, apalagi di usia 15 tahun, itu orang-orang lagi mencari asistensi. Asistensi itu dengan keberanian," ujar Jusri, kepada Kompas.com, Rabu (7/10/2026), Menurut Jusri, kondisi tersebut membuat anak muda lebih mudah terprovokasi oleh teman atau lingkungan sekitarnya. Misalnya, ketika seorang anak dianggap lambat saat mengendarai motor, ia bisa terdorong untuk meningkatkan kecepatan demi membuktikan keberanian. Hal serupa juga bisa terjadi pada gaya berkendara. Anak yang menggunakan sepeda motor dalam kondisi standar, lengkap dengan spion, lampu, lampu sein, dan pelat nomor, bisa saja merasa tidak percaya diri ketika melihat teman-temannya melakukan modifikasi ekstrem. "Usia-usia sekolah khususnya atau sampai 29 tahun, kelompok ini gampang sekali terprovokasi dengan situasi yang ada selain mencari asistensi. Dan mereka sangat labil," kata Jusri, kepada Kompas.com, Rabu (7/10/2026). Ilustrasi berkendara skutik Kecepatan Jadi Salah Satu Risiko Head of Safety Riding Promotion Wahana Agus Sani mengatakan, pengalaman anak muda yang masih terbatas terkadang tidak sejalan dengan rasa percaya diri mereka saat berada di jalan. "Pengalaman mereka di jalan masih terbatas, terkadang rasa percaya dirinya sudah tinggi, tapi kemampuan membaca situasi dan risikonya belum cukup matang," ujar Agus. Kondisi tersebut bisa semakin berisiko ketika ada pengaruh teman atau keinginan untuk terlihat berani. Akibatnya, anak dapat mengambil keputusan seperti berkendara terlalu cepat atau melakukan manuver secara tiba-tiba. Kecepatan juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin sedikit waktu yang tersedia bagi pengendara untuk bereaksi ketika menghadapi bahaya. "Semakin tinggi kecepatan, waktu kita untuk bereaksi semakin sedikit. Ketika tiba-tiba ada kendaraan, orang menyeberang, atau kondisi jalan berubah, ruang untuk melakukan antisipasi juga semakin kecil," kata Agus. Jusri menjelaskan, dari sisi fisika, peningkatan kecepatan juga membuat margin keselamatan semakin kecil. "Kalau kendaraan bergerak pelan, maka traksi mereka, cengkeraman ban akan lebih maksimal. Semakin cepat laju kendaraan, maka cengkeraman ban akan berkurang. Cengkeraman ban berkurang, maka peluang hilang kendalinya pun semakin besar," ucap Jusri. Karena itu, menurut Agus, persoalannya bukan hanya melarang anak untuk ngebut. Anak juga perlu memahami bagaimana menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan. Ilustrasi berkendara di jalan tol Orang Tua Jadi Contoh Pertama Di tengah pembahasan mengenai perilaku anak muda di jalan, orang tua ternyata memiliki posisi penting dalam membentuk kebiasaan berkendara. Agus mengatakan, anak tidak hanya belajar dari nasihat yang diberikan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat sehari-hari. "Anak biasanya belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, tapi juga dari apa yang mereka lihat," ujar Agus. Artinya, kebiasaan sederhana seperti menggunakan helm, tidak menggunakan ponsel saat berkendara, tidak ngebut, dan mematuhi aturan lalu lintas bisa menjadi contoh langsung bagi anak. Jusri bahkan menilai, orang tua merupakan salah satu sumber pembelajaran yang paling melekat bagi anak dalam hal berkendara. "Orang tua adalah pelajaran yang paling melekat, paling langsung tertancap ketika si anak jadi besar," kata Jusri. Ia mencontohkan, anak yang sejak kecil dibonceng orang tua tanpa menggunakan helm bisa menganggap kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang normal. Begitu pula ketika anak melihat orang tuanya menerobos lampu merah atau melakukan pelanggaran lain. Perilaku tersebut berpotensi menjadi pembelajaran yang ikut ditiru. "Jangan anak-anak sendiri belajar risiko. Jujur saja, bicara tentang lalu lintas saat sekarang, itu pelajaran yang paling besar mereka dapat dari orang tuanya," ujar Jusri. Batasan Tetap Dibutuhkan Menurut Agus, orang tua juga perlu memberikan batasan ketika anak mulai belajar berkendara. Namun, batasan tersebut bukan semata-mata berupa larangan. "Menurut saya perlu. Jadi batasan itu bukan berarti melarang anak berkendara, tapi membantu mereka belajar bertanggung jawab," kata Agus. Batasan tersebut bisa berupa aturan mengenai waktu berkendara, penggunaan helm, kecepatan, jumlah penumpang, hingga larangan menggunakan ponsel saat berkendara. Dengan begitu, anak tidak hanya memahami bahwa berkendara merupakan aktivitas yang membutuhkan keterampilan, tetapi juga tanggung jawab. Jusri menambahkan, orang tua juga perlu memahami keselamatan berkendara sebelum mengajarkan atau mendampingi anak. "Kalau belum paham, jangan coba-coba berinteraksi dengan darah tercinta, keluarga tercinta, di dalam lingkungan yang terkait dengan masalah berkendara," ucap Jusri. Ilustrasi belajar mengemudi mobil di sekolah mengemudi Jangan Cuma Bilang Hati-hati Mengajarkan keselamatan berkendara kepada anak juga tidak cukup hanya dengan mengingatkan agar berhati-hati. Agus menyarankan orang tua mengajak anak berpikir mengenai potensi bahaya yang ada di jalan. "Jangan hanya bilang 'hati-hati', tapi ajak anak melihat dan memahami situasi di jalan," kata Agus. Misalnya, ketika mendekati persimpangan, orang tua bisa bertanya mengenai potensi bahaya yang mungkin muncul. Anak juga dapat diajak memikirkan apa yang harus dilakukan jika kendaraan di depannya tiba-tiba berhenti. Cara tersebut membuat anak belajar membaca situasi dan mengambil keputusan, bukan sekadar menghafalkan aturan lalu lintas. Menurut Jusri, keselamatan di jalan sendiri merupakan persoalan yang kompleks. Kecelakaan tidak bisa hanya dilihat dari satu faktor, seperti pengendara atau kecepatan. Ia menyebut keselamatan berkendara juga berkaitan dengan manusia, teknologi, infrastruktur, dan sistem. Kapan Anak Siap Berkendara Sendiri? Agus mengatakan, orang tua juga perlu melihat perilaku anak sebelum memberikan kepercayaan untuk berkendara sendiri. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain anak masih sering melanggar aturan, suka ngebut, mudah terpancing emosi, belum mampu mengontrol kecepatan, kurang bisa membaca situasi, atau mudah terdistraksi oleh ponsel dan teman. "Jangan karena sudah bisa mengoperasikan kendaraan lalu langsung dianggap siap berkendara sendiri," ujar Agus. Jusri menilai kesiapan seorang pengendara tidak bisa hanya diukur dari kemampuan mengoperasikan kendaraan. Berkendara merupakan aktivitas yang membutuhkan kemampuan kognitif, motorik, dan emosional. "Dia harus tahu. Karena kita tidak hanya tertib berlalu lintas dalam aturan, tetapi juga punya kemampuan motorik, skill dan kemampuan kognitif," kata Jusri. Pengendara juga harus mampu menerima berbagai informasi melalui mata dan telinga, kemudian mengambil keputusan yang tepat. Selain itu, kemampuan mengendalikan emosi dan memiliki empati terhadap pengguna jalan lain juga diperlukan. Karena itu, memiliki surat izin mengemudi (SIM) seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai legalitas, tetapi juga berkaitan dengan kompetensi seseorang dalam berkendara. Ilustrasi berkendara motor. Orang Tua Perlu Dampingi Anak Pada akhirnya, Jusri menilai pendampingan orang tua tetap dibutuhkan ketika anak mulai belajar berkendara. "Seribu persen perlu. Mereka harus dibimbing," ujar Jusri. Menurut dia, berkendara merupakan aktivitas berisiko tinggi karena manusia hampir selalu berinteraksi dengan jalan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk sekolah, bekerja, maupun berbagai kebutuhan lainnya. Karena itu, anak sebaiknya tidak dibiarkan belajar memahami risiko seorang diri. "Orang tua yang cinta anak, yang bekerja untuk keluarga, untuk cita-cita keluarga mereka, salah satunya adalah agar anak-anak mereka berhasil. Mereka juga harus diberikan pemahaman, pengetahuan tentang risiko yang paling besar dihadapi oleh mereka," kata Jusri. Pendampingan pun bukan hanya soal mengajari anak mengendalikan setang atau kemudi. Anak juga perlu dibekali kemampuan membaca situasi, mengantisipasi bahaya, mengendalikan emosi, dan mengambil keputusan yang aman. Setelah kemampuan dan kedisiplinannya dinilai cukup, kepercayaan untuk berkendara sendiri dapat diberikan secara bertahap.