Industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) semakin banyak memanfaatkan baterai berbasis lithium iron phosphate (LFP), bukan nickel manganese cobalt (NMC). Pilihan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, tetapi juga mempertimbangkan efisiensi biaya dan daya saing produk. Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Moeldoko mengatakan, perkembangan teknologi baterai membuat industri tidak lagi hanya bergantung pada nikel sebagai bahan baku. Pabrik perakitan baterai motor listrik Polytron di Sidorekso "Dari hulu, kita memang memiliki sumber daya yang luar biasa di bidang nikel. Tapi saya ingin menyampaikan, dengan perkembangan teknologi yang lompat-lompatan, baterai sekarang tidak hanya mengandalkan nikel," ujar Moeldoko, dalam RDPU Panja Pengembangan Ekosistem dan Daya Saing Industri Kendaraan Listrik Nasional yang disiarkan daring (21/9/2026). Menurut dia, industri baterai pada dasarnya membutuhkan bahan baku yang mudah diperoleh dan memiliki harga kompetitif. Hal tersebut penting agar kendaraan listrik yang diproduksi memiliki daya saing di pasar. "Karena prinsip dari industri baterai adalah, pertama, bahan bakunya mudah didapat. Kedua, murah, sehingga nantinya produknya memiliki daya saing yang tinggi," katanya. Salah satu pengunjung IIMS 2025 antusias melihat simulasi penukaran baterai motor listrik di booth PLN. LFP Dinilai Lebih Efisien dan Murah Moeldoko menjelaskan, LFP tidak menggunakan nikel sebagai material utamanya. Jenis baterai ini kini banyak digunakan oleh industri kendaraan listrik karena dinilai lebih efisien dan memiliki biaya produksi yang lebih rendah. "Jadi, kita tidak harus nikel. Karena LFP itu orientasinya bukan nikel. Kenapa sekarang banyak industri baterai yang menggunakan LFP, bukan NMC? Karena LFP jauh lebih efisien, lebih murah, dan memiliki daya tahan cukup baik," ujarnya. Baterai motor listrik Charged EV Anoa, punya daya jelajah 80 kilometer Sementara itu, baterai NMC menggunakan nikel dalam komposisinya. Menurut Moeldoko, teknologi NMC masih dapat diandalkan untuk kebutuhan industri tertentu, meski industri kendaraan listrik kini juga memiliki pilihan teknologi lain. "Sedangkan NMC, yang menggunakan nikel, mungkin pada industri-industri tertentu bisa diandalkan ke sana," kata dia. Daftar 10 tambang nikel terbesar dunia berdasarkan data GlobalData Indonesia Punya Nikel, tetapi Masih Impor Litium Perubahan teknologi baterai tersebut menjadi perhatian bagi Indonesia yang selama ini dikenal memiliki sumber daya nikel melimpah. Menurut Moeldoko, keberadaan cadangan nikel tetap menjadi modal penting bagi pengembangan industri baterai nasional, tetapi tidak berarti seluruh teknologi baterai harus bergantung pada nikel. Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi tantangan karena belum memiliki tambang litium. Bahan baku tersebut masih harus didatangkan dari luar negeri. Booth motor listrik MAB di PEVS 2025 "Kita juga tidak memiliki tambang litium sehingga ini juga masih impor," ujar Moeldoko. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya bergantung pada ketersediaan satu jenis bahan baku. Perkembangan teknologi membuat industri perlu mempertimbangkan kombinasi faktor, mulai dari ketersediaan material, biaya produksi, efisiensi, hingga daya saing kendaraan listrik yang dihasilkan.