Pemilihan jenis baterai menjadi salah satu pertimbangan penting bagi pengguna motor listrik, baik untuk kendaraan pabrikan maupun hasil konversi. Dua jenis baterai lithium yang paling umum beredar di pasaran adalah NMC (Nickel Manganese Cobalt) yang menggunakan bahan baku nikel, dan LFP (Lithium Iron Phosphate) yang tidak menggunakan nikel. Pemilik bengkel Dolland Motor Electric, Abdullah, menjelaskan bahwa kedua jenis baterai ini memiliki karakteristik yang cukup berbeda, mulai dari kepadatan energi, bobot, ukuran, hingga tingkat keamanannya. Baterai motor listrik Gesits Raya G, yang jadi salah satu contoh baterai litium. Densitas Energi Jadi Keunggulan Baterai Nikel Abdullah mengatakan, keunggulan utama baterai berbahan nikel seperti NMC terletak pada densitas atau kepadatan tenaganya yang lebih tinggi dibandingkan LFP. Artinya, dengan ukuran fisik yang sama, baterai NMC bisa menghasilkan kapasitas yang lebih besar sekaligus bobot yang lebih ringan. "Dengan bentuk fisik yang sama tapi memiliki bobot yang lebih ringan plus kapasitas yang lebih besar," ujar Abdullah kepada Kompas.com, Jumat (28/8/2026). Kepadatan tenaga yang besar ini membuat baterai NMC cocok digunakan pada aplikasi yang membutuhkan performa tinggi, dengan catatan sel yang dipakai memiliki kualitas atau grade yang baik. Sebab menurut Abdullah, banyak sel baterai yang beredar di Indonesia justru memiliki grade yang kurang bagus. Ukuran yang lebih kecil juga membuat penempatan baterai NMC pada kendaraan menjadi lebih mudah dan tidak memakan banyak ruang. Hasilnya, motor listrik bisa memiliki tenaga besar dan jarak tempuh jauh namun tetap ringkas dan ringan. Test ride motor listrik Alva N3 Risiko Thermal Runaway Jadi Kelemahan Utama NMC Di balik keunggulan densitas energinya, baterai berbahan nikel memiliki kelemahan pada sisi keamanan. Abdullah menyebut, baterai jenis ini rentan mengalami thermal runaway atau kenaikan suhu tak terkendali di dalam sel baterai. Kondisi ini bisa terjadi ketika internal resistance meningkat sehingga arus yang seharusnya disalurkan justru berubah menjadi panas dan berpotensi memicu kebakaran. Menurut Abdullah, solusinya adalah memasang sensor suhu sebanyak dan seefisien mungkin untuk mendeteksi kenaikan suhu pada sel baterai. Namun hal ini menjadi tantangan tersendiri ketika satu pack baterai terdiri dari ratusan sel. LFP Unggul di Sisi Keamanan Berbeda dengan NMC, baterai LFP dinilai lebih unggul dari sisi keselamatan. Abdullah menjelaskan, bahan baku LFP tidak mudah terbakar. Sekalipun mengalami kerusakan, baterai ini umumnya hanya mengeluarkan kepulan asap tebal dan membutuhkan waktu cukup lama sebelum benar-benar menimbulkan api besar. Dari sisi performa, sejumlah baterai LFP menurut lembar spesifikasinya (datasheet) juga diklaim mampu mengeluarkan daya yang besar, meski tidak semua tipe LFP bisa menyamai performa baterai berbahan nikel. "Poin plusnya hanya faktor safety dari terbakar atau thermal runaway," kata Abdullah. Bobot dan Ukuran Jadi Kekurangan LFP Kekurangan utama baterai LFP terletak pada bobot dan ukurannya yang lebih besar dibandingkan NMC. Kondisi ini membuat penempatan baterai LFP pada kendaraan menjadi lebih menyulitkan karena tidak bisa seringkas baterai berbahan nikel. Abdullah mencontohkan, pada kendaraan roda dua dengan kapasitas baterai yang sama yakni 72 volt 50 Ah, baterai LFP akan memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan NMC. Ukurannya yang lebih besar juga membuat baterai ini memakan lebih banyak ruang pada kendaraan. Kesimpulan Baik NMC maupun LFP sama-sama memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. NMC unggul dari sisi densitas energi, bobot ringan, dan ukuran yang ringkas, namun berisiko lebih tinggi mengalami thermal runaway. Sementara LFP lebih unggul dari sisi keamanan meski harus mengorbankan bobot dan ukuran yang lebih besar.