Baterai menjadi salah satu komponen penting pada kendaraan listrik karena menentukan sejumlah aspek, mulai dari jarak tempuh, bobot kendaraan, hingga performa. Saat ini, terdapat sejumlah teknologi baterai yang digunakan pada kendaraan listrik, di antaranya Nickel Manganese Cobalt (NMC) dan Lithium Iron Phosphate (LFP). Kendaraan listrik, baik mobil maupun sepeda motor, yang dipasarkan oleh sejumlah merek asal China saat ini banyak menggunakan baterai LFP. Sementara itu, baterai NMC sesuai namanya menggunakan tiga material utama pada bagian katodanya, yakni nikel, mangan, dan kobalt. Meski materialnya disebut lebih mahal, salah satu keunggulan NMC adalah kepadatan energi yang relatif tinggi. Baterai mobil listrik MG Dengan kapasitas energi yang sama, baterai NMC dapat dibuat lebih ringkas dan ringan dibandingkan baterai dengan kepadatan energi lebih rendah. Pendiri National Battery Research Institute (NBRI) Evvy Kartini mengatakan, karakter tersebut membuat NMC menarik digunakan pada kendaraan yang membutuhkan baterai berukuran lebih kecil, termasuk sepeda motor listrik. "Kalau saya buat storage dengan baterainya NMC, saya cuma bikin separohnya. Jadi yang lebih ringan karena densitinya lebih besar," katanya yang ditemui di GIIAS 2026, Sabtu (8/8/2026). "Jadi, kalau kita membuat motor, bagusnya pakai yang NMC. Karena motor kan nggak boleh besar. Tapi kalau buat storage (penyimpanan saja), orang enggak jalan-jalan, enggak apa-apa," katanya. Kepadatan Energi Evvy yang merupakan fisikawan nuklir dan ilmuwan material, menilai kepadatan energi menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan teknologi baterai kendaraan listrik. Inovasi baterai mobil listrik dari Korea Selatan Semakin tinggi kepadatan energi, semakin banyak energi yang dapat disimpan dalam baterai dengan ukuran dan bobot tertentu. Hal tersebut menjadi penting untuk kendaraan listrik. Sebab baterai yang terlalu besar dan berat dapat menambah bobot kendaraan sehingga berpengaruh terhadap kepraktisan dan pengendalian. Selain kepadatan energi, kandungan material pada NMC juga berpengaruh terhadap karakter performanya. Evvy menjelaskan, keberadaan kobalt berkaitan dengan kemampuan baterai dalam memberikan tenaga dan akselerasi. "Kedua, energi itu misalnya buat energi dia punya namanya kobalt. Kobalt itu buat akselerasi.Kalau mobil-mobil dalam kota mesti dia pakai LFP ya. Tapi sekarang saya tanya, kalau Anda tanya (Hyundai) Ionic, BMW atau Honda, dia pasti pakai untuk mobil Jepang itu pakai NCM," ujarnya. "Kenapa? pertama karena dia memang mobil yang dipakai untuk mobil sport, dia buat ngebut ya. Jadi jadi masing-masing punya perubahan," kata Evvy. Ilustrasi baterai motor listrik Nilai Daur Ulang Keunggulan NMC tidak hanya berkaitan dengan performa ketika digunakan. Teknologi tersebut juga memiliki potensi dari sisi daur ulang ketika baterai sudah memasuki akhir masa pakainya. Evvy mengatakan naterai NMC mengandung mineral yang masih bisa dimanfaatkan lagi. Nikel, mangan, dan kobalt, merupakan material yang memiliki nilai ekonomi. "Kedua ini selain akselerasi juga recycle-nya, kalau dia baterainya NMC dia bisa ambil nikel, mangan, kobalt, 95 persen masuk dengan nilai," ujarnya. "Tapi kalau baterainya LFP yang diambil itu besi, apa ada nilai besi enggak ada harganya ya," kata Evvy. Baterai NMC dan LFP Untuk diketahui, NMC dan LFP sama-sama merupakan jenis baterai lithium-ion, tetapi memiliki material katoda yang berbeda. Baterai motor listrik Gesits Raya G, yang jadi salah satu contoh baterai litium. NMC menggunakan kombinasi nikel, mangan, dan kobalt. Teknologi ini dikenal memiliki kepadatan energi yang tinggi sehingga dapat menghasilkan kapasitas besar dengan ukuran baterai yang relatif ringkas. Sementara itu, LFP menggunakan lithium iron phosphate atau litium besi fosfat sebagai material katoda. LFP tidak menggunakan nikel dan kobalt sehingga karakteristiknya berbeda dari NMC. Secara umum, NMC memiliki keunggulan dari sisi kepadatan energi dan bobot. Sementara LFP dikenal memiliki karakter yang stabil serta menggunakan material yang relatif melimpah. Pemilihan NMC atau LFP pada kendaraan listrik pada akhirnya bergantung pada kebutuhan. Faktor seperti jarak tempuh, bobot, performa, biaya, keamanan, hingga pola penggunaan menjadi pertimbangan dalam menentukan teknologi baterai.