Sepeda motor listrik kian diminati masyarakat sebagai solusi mobilitas harian di tengah ketidakpastian harga bahan bakar minyak (BBM). Kemudahan pengisian daya di rumah serta klaim biaya perawatan yang relatif minim menjadi daya tarik utama kendaraan elektrifikasi roda dua ini. Kendati demikian, penggunaan dalam jangka panjang tetap menyisakan sejumlah catatan dan kekurangan yang dirasakan langsung oleh para pemiliknya. Mulai dari masalah usia pakai baterai bawaan pabrik, tingginya depresiasi harga, hingga kendala pada komponen kelistrikan dan pengereman. Motor listrik bekas Daya Tahan Baterai SLA dan Modifikasi Sektor penyimpanan daya menjadi salah satu titik perhatian utama, terutama pada unit yang masih menggunakan baterai jenis Sealed Lead Acid (SLA). Randy Waluya, pemilik Yadea E8s Pro keluaran 2023, menceritakan pengalamannya saat awal membeli kendaraan tanpa memahami secara mendalam spesifikasi teknisnya. "Pada saat saya pilih E8s Pro, saya belum paham betul cuma lihat klaim jarak tempuhnya hingga 100 km, saya pikir masih aman kalau dipakai pulang-pergi sejauh 60 km," ujar Randy kepada Kompas.com belum lama ini. Randy baru menyadari bahwa baterai jenis SLA memiliki performa serta masa pakai paling terbatas. Memasuki bulan ke-15 penggunaan, baterai kendaraan miliknya mengalami pembengkakan. "Bulan ke-15 baterai saya kembung, antre satu bulan untuk diganti baterai baru dengan tipe yang sama. Kalau dijual pada saat itu, memang harga motor listrik depresiasinya luar biasa," lanjut Randy. Guna mengejar performa dan jarak tempuh yang lebih memadai, Randy akhirnya merogoh kocek hingga Rp 9,5 juta untuk meng-upgrade baterai menjadi jenis Lithium Iron Phosphate (LFP), serta mengganti unit controller bawaan dengan komponen purna jual agar potensi tenaga motornya dapat keluar secara maksimal. Ganti Baterai dan Masalah Pengereman Pengalaman serupa terkait masa pakai baterai juga dialami oleh Kiagus, pemilik Uwinfly T5 yang sudah mengoperasikan kendaraannya sejak 2022. Memasuki tahun ketiga pemakaian, ia harus menyiapkan dana ekstra untuk mengganti seluruh rangkaian Baterai. "Ganti baterainya saja Rp 2,2 juta untuk enam baterai, biaya jasa Rp 250.000. Itu saya ganti setelah tiga tahunan, tetapi ganti baterainya bukan dengan yang orisinal," ungkap Kiagus. Baterai motor listrik Selain urusan baterai, sektor komponen elektronik pendukung juga tak luput dari masalah. Hadyan, pengguna Polytron Fox R sejak akhir 2024, mencatatkan adanya gangguan pada komponen pengereman kendaraan harian miliknya. "Sejauh ini paling kalau ada keluhan saja baru servis, seperti sensor rem yang eror waktu itu. Setelah itu belum servis lagi, tetapi mungkin sudah waktunya ganti kampas rem sama minyak rem," kata Hadyan. Beralih ke motor listrik memang menawarkan efisiensi biaya operasional harian yang cukup nyata. Namun, calon pengguna tetap dituntut untuk memahami jenis baterai yang digunakan serta menyiapkan dana cadangan untuk penggantian Baterai maupun perawatan komponen elektronik secara berkala agar kendaraan tetap aman dan nyaman digunakan.