Pengisian daya cepat atau fast charging menjadi salah satu fitur yang memudahkan pemilik mobil listrik, terutama saat membutuhkan tambahan daya dalam waktu singkat. Meski praktis, penggunaan fast charging terlalu sering disebut perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kondisi baterai dalam jangka panjang. Jayan Sentanuhady, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan, konsumen kendaraan listrik tak perlu khawatir, karena fast charging tak akan mebuat baterai mobil listrik langsung rusak. “Fast charging tetap dibutuhkan, terutama di tempat-tempat umum atau saat kondisi darurat, tapi ini tak boleh terlalu sering, sesekali harusnya masih aman agar usia pakai baterai tetap awet,” ucap Jayan kepada Kompas.com, belum lama ini. Neta Sediakan SPKLU Fast Charging 47 Kw untuk mobil listrik, Pertama di Indonesia Penggunaan fast charging dapat mempercepat degradasi baterai, alasannya karena arus listrik besar sehingga pengisian cepat penuh, tapi panas lebih cepat naik. “Bila baterai sering panas, maka sel baterai akan cepat rusak, sehingga kesehatannya menurun, jarak tempuhnya jadi lebih pendek,” ucap Jayan. Meski demikian, fast charging sesekali dalam kondisi darurat atau di tengah perjalanan tidak masalah dilakukan. Hanya saja, sebisa mungkin konsumen mengatur perjalanan. “Misal, mobil akan dipakai beberapa hari ke depan, maka sejak hari ini, konsumen bisa mengecas baterai dengan arus listrik rendah, sehingga pas hari H baterai penuh dan tak mengalami panas,” ucap Jayan. Cara tersebut, menurut Jayan lebih efektif dalam menjaga performa baterai pada kendaraan listrik, daripada ketergantungan dengan fasilitas fast charging. Sementara itu, Kepala Teknisi Domo Hybrid EV, Yogig Pramono, mengatakan, fast charging idealnya digunakan ketika pemilik mobil hendak bepergian jauh atau sedang terburu-buru. Menurut dia, fast charging bisa dimanfaatkan ketika persentase baterai sudah berada di sekitar 20 persen. "Idealnya menggunakan fast charging saat mau bepergian jauh atau buru buru dan persentase baterai sudah kurang lebih di 20 persen, untuk amannya kalau dari seminggu di satu kali, dan kalau penggunaan di dalam kota dan jaraknya kurang lebih 100km," kata Yogig kepada Kompas.com. Selain soal frekuensi fast charging, Yogig juga mengingatkan pemilik mobil listrik untuk memperhatikan kondisi baterai. "Karena kalau baterai sering kurang dari 20 persen ini sangat tidak bagus buat kesehatan baterai, kapasitas baterai kecil dan akan cepat memicu kerusakan baterai," ujarnya. Untuk pemakaian harian di dalam kota dengan jarak sekitar 100 kilometer, Yogig menilai pemilik mobil listrik tidak perlu terlalu sering mengandalkan fast charging. "Karena kebanyakan mobil sekarang kalau baterai full bisa tempuh jarak di 200 km lebih, jadi pendapat saya kalo kurang dari 100 km baterai tidak terlalu banyak berkurang dan mobil kalau di charger pakai AC semalam sudah penuh kembali," kata Yogig.