Fasilitas fast charging atau pengisian daya cepat semakin mudah ditemui seiring bertambahnya mobil listrik di Indonesia. Teknologi ini memang memudahkan pemilik mobil listrik, terutama ketika membutuhkan tambahan daya dalam waktu singkat. Namun, penggunaan fast charging sebaiknya tetap disesuaikan dengan kebutuhan. Kepala Teknisi Domo Hybrid EV, Yogig Pramono, mengatakan, fast charging idealnya digunakan ketika pemilik mobil hendak bepergian jauh atau sedang terburu-buru. Menurut dia, fast charging bisa dimanfaatkan ketika persentase baterai sudah berada di sekitar 20 persen. "idealnya menggunakan fast charging saat mau bepergian jauh atau buru buru dan persentase baterai sudah kurang lebih di 20 persen, untuk amannya kalau dari seminggu di satu kali, dan kalau penggunaan di dalam kota dan jaraknya kurang lebih 100km," kata Yogig kepada Kompas.com, Selasa (15/9/2026). konsumsi daya Changan Lumin Jangan Terlalu Sering Biarkan Baterai di Bawah 20 Persen Selain soal frekuensi fast charging, Yogig juga mengingatkan pemilik mobil listrik untuk memperhatikan kondisi baterai. Menurut dia, kebiasaan terlalu sering menggunakan mobil sampai persentase baterainya berada di bawah 20 persen justru kurang baik untuk kesehatan baterai dalam jangka panjang. "Karena kalau baterai sering kurang dari 20 persen ini sangat tidak bagus buat kesehatan baterai, kapasitas baterai kecil dan akan cepat memicu kerusakan baterai," ujarnya. Dengan demikian, fast charging bukan berarti harus selalu digunakan ketika baterai sudah hampir habis. Pemilik mobil sebaiknya tetap menyesuaikan pola pengisian daya dengan kebutuhan penggunaan sehari-hari. Pemakaian Dalam Kota Tak Harus Fast Charging Untuk pemakaian harian di dalam kota dengan jarak sekitar 100 kilometer, Yogig menilai pemilik mobil listrik tidak perlu terlalu sering mengandalkan fast charging. Pasalnya, jarak tempuh tersebut umumnya belum menghabiskan terlalu banyak kapasitas baterai, mengingat banyak mobil listrik saat ini memiliki jarak tempuh lebih dari 200 kilometer dalam kondisi baterai penuh. "Karena kebanyakan mobil sekarang kalau baterai full bisa tempuh jarak di 200 km lebih, jadi pendapat saya kalo kurang dari 100 km baterai tidak terlalu banyak berkurang dan mobil kalau di charger pakai AC semalam sudah penuh kembali," kata Yogig. Untuk penggunaan seperti ini, pengisian menggunakan AC charging di rumah pada malam hari dapat menjadi pilihan. Dengan begitu, mobil bisa kembali mendapatkan daya saat tidak digunakan dan siap digunakan untuk aktivitas berikutnya. SPKLU Voltron di Puri Indah menawarkan 24 titik pengisian dengan teknologi ultra fast charging dan akses 24 jam. Fast Charging Sebaiknya Sesuai Kebutuhan Dari penjelasan tersebut, penggunaan fast charging sekitar satu kali dalam seminggu dinilai aman untuk pola pemakaian dalam kota dengan jarak sekitar 100 kilometer, terutama ketika memang membutuhkan pengisian lebih cepat. Sementara untuk perjalanan sehari-hari yang tidak terlalu jauh, pengisian AC di rumah pada malam hari bisa dimanfaatkan. Artinya, pemilik mobil listrik tidak perlu menjadikan fast charging sebagai satu-satunya metode pengisian. Penggunaannya dapat disesuaikan dengan kondisi baterai, jarak perjalanan, dan kebutuhan waktu. Yang juga perlu diperhatikan adalah jangan membiasakan baterai terlalu sering berada di bawah 20 persen, karena menurut Yogig kondisi tersebut kurang baik bagi kesehatan baterai.