Salah satu informasi yang paling sering diperhatikan calon pembeli mobil listrik adalah jarak tempuh yang tercantum pada brosur kendaraan. Angka tersebut menjadi acuan untuk mengetahui seberapa jauh mobil dapat digunakan dalam sekali pengisian daya penuh. Salah satu standar yang pernah banyak digunakan oleh produsen otomotif, adalah New European Driving Cycle (NEDC). Dilansir dari drive, metode ini dirancang untuk mengukur konsumsi energi, konsumsi bahan bakar, serta emisi kendaraan dalam kondisi pengujian yang terkontrol. NEDC merupakan metode pengujian yang digunakan untuk mengukur emisi gas buang serta konsumsi bahan bakar atau konsumsi energi kendaraan listrik saat masih baru. Pameran Indomobil Expo 2026 resmi digelar, fokus pada mobil listrik. NEDC bisa dibilang standar lama yang selama bertahun-tahun menjadi acuan bagi produsen kendaraan di Eropa. Standar ini terakhir diperbarui pada 1997. Dalam pengujian NEDC, kendaraan diuji di laboratorium menggunakan alat bernama dynamometer atau rolling road, yang mensimulasikan kondisi jalan. Kendaraan yang diuji harus memiliki jarak tempuh kurang dari 2.900 kilometer agar komponen mesin dan sistem penggeraknya sudah berada dalam kondisi optimal. Pengujian dilakukan sepanjang simulasi perjalanan sejauh 10,9 kilometer dengan kecepatan rata-rata 34 km/jam. Di laboratorium, penguji dapat mensimulasikan hambatan angin melalui perhitungan matematis dan mengatur tingkat resistansi pada dynamometer, mirip seperti mengatur beban pada sepeda statis di pusat kebugaran. Mobil listrik Polytron G3 sebagai official car Indonesia Open 2026 Tes Dua Tahap 1. Uji Perkotaan (Urban Cycle) Tahap ini mensimulasikan kondisi lalu lintas perkotaan sejauh 4 kilometer dengan kecepatan rata-rata hanya 14,4 km/jam selama 3 menit 15 detik. Selama pengujian, kendaraan akan, berhenti dalam kondisi idle, berakselerasi hingga 50 km/jam, melambat kembali, berhenti, dan kemudian berjalan lagi. Pola tersebut dirancang untuk meniru kondisi berkendara di perkotaan yang sering mengalami kemacetan dan berhenti-jalan. 2. Uji Luar Kota (Extra-Urban Cycle) Tahap berikutnya adalah simulasi perjalanan luar kota sejauh 6,9 kilometer. Pada pengujian ini, kendaraan dipacu hingga kecepatan maksimum 120,7 km/jam, sekitar 50 persen waktu digunakan untuk melaju pada kecepatan konstan, sisanya terdiri dari akselerasi, deselerasi, dan kondisi idle. Ilustrasi baterai mobil listrik Total waktu pengujian mencapai 6 menit 40 detik dengan kecepatan rata-rata 62,7 km/jam. Selama seluruh proses, kendaraan tidak pernah keluar dari laboratorium. Semua perangkat tambahan seperti lampu, radio, sistem hiburan, dan pendingin udara (AC) dimatikan sepenuhnya. Dari hasil tersebut, diperoleh angka konsumsi bahan bakar, konsumsi energi kendaraan listrik, serta emisi gas buang yang kemudian digunakan sebagai spesifikasi resmi kendaraan. Kekurangan NEDC Seiring waktu, NEDC dinilai kurang merepresentasikan kondisi penggunaan kendaraan di dunia nyata. Salah satu kelemahannya adalah seluruh pengujian dilakukan dalam kondisi ideal. Lampu, radio, AC, dan perangkat elektronik lain dimatikan, padahal komponen tersebut lazim digunakan saat berkendara sehari-hari dan dapat memengaruhi konsumsi energi. Ilustrasi SPKLU mobil listrik di Tol Trans Jawa. Ketegangan geopolitik dorong percepatan transisi energi listrik di Indonesia. Selain itu, pola akselerasi dan kecepatan pada NEDC dianggap terlalu ringan dibandingkan kondisi lalu lintas modern. Akibatnya, angka konsumsi bahan bakar maupun jarak tempuh kendaraan listrik yang dihasilkan sering kali lebih optimistis dibandingkan penggunaan sebenarnya. Kelemahan lain adalah karena prosedur pengujiannya sangat terstandarisasi, sejumlah produsen dapat mengoptimalkan pengaturan mesin dan transmisi agar memperoleh hasil terbaik saat tes berlangsung. Kondisi ini kemudian memicu berbagai kontroversi terkait pengujian emisi kendaraan di Eropa. China merupakan negara dengan fasilitas pengisian mobil listrik terbanyak di dunia Digantikan WLTP Tes NEDC digunakan sejak 1980-an hingga 2017. Setelah itu, standar ini mulai digantikan oleh WLTP (Worldwide Harmonised Light Vehicle Test Procedure) yang dianggap lebih realistis. Metode NEDC sering dikritik karena pengujiannya terlalu “lembut” dan tidak mencerminkan kondisi berkendara di dunia nyata. Secara umum, siklus NEDC terdiri dari, 66 persen simulasi berkendara di perkotaan, 34 persen simulasi berkendara di jalan raya, dan durasi pengujian sekitar 20 menit. Karena tidak memperhitungkan penggunaan AC, perangkat elektronik, maupun karakteristik berbagai jenis kendaraan modern, NEDC kini dianggap kurang relevan. Itulah sebabnya banyak produsen dan regulator beralih ke WLTP yang memiliki metode pengujian lebih mendekati kondisi berkendara sehari-hari. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang