Degradasi baterai pada mobil listrik merupakan proses alami yang tidak bisa dihindari. Namun, pemilik kendaraan tetap dapat memperlambat penurunan performa baterai melalui pola penggunaan dan kebiasaan pengisian daya yang tepat. Pendiri EVSafe Mahaendra Gofar mengatakan, degradasi terjadi seiring bertambahnya usia sel baterai lithium-ion dan perubahan kimia akibat penggunaan. “Degradasi baterai EV terjadi secara alami seiring bertambahnya usia sel lithium-ion dan mengalami perubahan kimia akibat penggunaan, yang menyebabkan penurunan kapasitas maksimum secara perlahan dari waktu ke waktu,” kata Gofar kepada Kompas.com, baru-baru ini. Komparasi mobil listrik terlaris Rp 300 jutaan Salah satu cara menjaga kesehatan baterai adalah menghindari kebiasaan mengisi daya hingga 100 persen setiap hari, terutama jika mobil tidak digunakan untuk perjalanan jauh. Pengguna juga disarankan tidak terlalu sering membiarkan baterai berada pada kondisi sangat rendah atau mendekati nol persen. “Pola charging sangat berpengaruh terhadap umur baterai. Penggunaan yang lebih bijak bisa membantu memperlambat degradasi,” katanya. Sebelumnya, Gofar mengatakan, level baterai ekstrem atau depth of discharge juga menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat degradasi baterai mobil listrik. “Level baterai ekstrem atau depth of discharge menjadi salah satu faktor yang mempercepat degradasi. Terlalu sering diisi hingga 100 persen atau dibiarkan sampai 0 persen kurang baik untuk kesehatan baterai,” katanya. Untuk penggunaan harian, level baterai dapat dijaga di kisaran 20 persen hingga 80 persen agar sel baterai tidak terlalu sering bekerja pada kondisi ekstrem. Gofar juga menyebut siklus isi-pakai dan usia baterai sebagai faktor lain yang memengaruhi degradasi. Meski begitu, degradasi baterai merupakan hal yang wajar pada kendaraan listrik. Dengan pola penggunaan dan pengisian daya yang tepat, penurunan performa baterai dapat diperlambat sehingga tetap layak digunakan dalam jangka panjang.