Seiring meningkatnya jumlah kendaraan listrik (EV) termasuk mobil listrik di Indonesia, banyak pemilik EV yang mengandalkan pengisian cepat (DC fast charging) untuk kenyamanan dan efisiensi waktu. Namun, penggunaan DC charging secara berlebihan ternyata memiliki risiko terhadap kesehatan baterai, terutama jika sistem pendingin baterai tidak bekerja optimal. Menurut Product Planning and Strategy GAC Aion Indonesia, Iqbal Taufiqurrahman, penggunaan DC charging memang dirancang untuk mempercepat pengisian, tetapi ada konsekuensi tertentu yang harus diperhatikan oleh pemilik EV. "Sering melakukan pengisian cepat menggunakan DC dapat meningkatkan suhu baterai secara signifikan. Jika sistem pendingin baterai tidak mampu menurunkan panas dengan baik, maka akan terjadi penurunan battery health dalam jangka panjang," kata Iqbal kepada Kompas.com, Minggu (30/11/2025). Iqbal menambahkan, suhu tinggi yang muncul saat pengisian cepat bisa mempercepat degradasi sel baterai, sehingga kapasitas maksimal baterai akan berkurang lebih cepat dibandingkan pengisian menggunakan AC biasa. Hal ini tidak hanya mempengaruhi jarak tempuh kendaraan, tetapi juga bisa menimbulkan biaya perawatan yang lebih tinggi. Ilustrasi mengisi daya mobil listrik. Untuk itu, ia menyarankan agar pemilik EV menggunakan DC charging secara bijak, misalnya hanya saat kondisi darurat atau ketika waktu terbatas. Pengisian reguler dengan AC charging tetap menjadi opsi terbaik untuk menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang. Selain itu, pemilik EV juga disarankan untuk memperhatikan kondisi sistem pendingin kendaraan dan memastikan suhu baterai tidak terlalu tinggi selama proses pengisian. Beberapa model EV modern sudah dilengkapi dengan manajemen baterai pintar yang bisa menyesuaikan kecepatan pengisian sesuai suhu, sehingga risiko penurunan battery health bisa diminimalkan. Dengan memahami risiko dan menerapkan cara pengisian yang tepat, pemilik EV bisa tetap menikmati kemudahan pengisian cepat tanpa mengorbankan umur baterai kendaraan mereka. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang