Jenis baterai menjadi salah satu hal yang cukup sering dibahas ketika berbicara soal keamanan mobil listrik, terutama setelah munculnya sejumlah kasus kendaraan listrik terbakar. Saat ini, ada dua jenis kimia baterai yang cukup banyak digunakan pada mobil listrik, yakni Lithium Iron Phosphate (LFP) dan Nickel Manganese Cobalt (NMC). Baterai LFP kemudian sering disebut-sebut lebih aman karena memiliki stabilitas termal yang lebih baik dan cenderung lebih sulit mengalami thermal runaway dibandingkan baterai berbasis NMC. Lantas, apakah benar baterai LFP lebih aman dari kebakaran? Kepala Teknisi Domo Hybrid EV, Yogig Pramono, mengatakan baterai LFP memang memiliki karakter yang relatif lebih aman terhadap risiko kebakaran. "Sejauh ini tidak pernah terbakar dan ada yang sudah membuktikan baterai LFP ditusuk beberapa kali namun tidak terbakar. Tapi ada beberapa kasus cuma keluar asap pekat saja," ujar Yogig kepada Kompas.com, Selasa (14/9/2026). Kenapa LFP Dianggap Lebih Aman? LFP merupakan singkatan dari Lithium Iron Phosphate atau lithium besi fosfat. Salah satu karakteristik utama baterai ini adalah stabilitas termalnya yang lebih tinggi. Artinya, ketika sel baterai mengalami kondisi ekstrem, material LFP cenderung lebih stabil dibandingkan beberapa jenis baterai lithium-ion lainnya. Hal tersebut juga menjadi alasan sejumlah produsen mobil listrik menggunakan LFP untuk produknya. BYD, misalnya, menggunakan Blade Battery yang berbasis LFP. Teknologi ini digunakan pada sejumlah model yang dipasarkan di Indonesia, seperti Atto 1, Dolphin, Atto 3, Seal, M6, hingga Sealion 7. Pada pengujian yang dilakukan BYD, Blade Battery juga diuji dengan metode nail penetration test. Dalam pengujian tersebut, baterai ditusuk menggunakan paku dan BYD menyebut tidak terjadi asap maupun api pada baterai yang diuji. Namun, hasil pengujian tersebut tetap perlu dipahami sebagai pengujian terhadap baterai dan konfigurasi tertentu. Kondisi nyata pada mobil bisa jauh lebih kompleks, karena keamanan baterai tidak hanya ditentukan oleh jenis kimia sel. Ada sistem battery management system (BMS), sistem pendinginan, struktur pelindung baterai, kualitas produksi, hingga kondisi baterai setelah mengalami benturan. Nail test baterai NMC dan LFP, dengan cara ditusuk memakai besi. Baterai NMC meledak dan terbakar, sedangkan baterai LFP aman. Bukan Berarti LFP Tidak Bisa Terbakar Meski memiliki stabilitas termal yang lebih baik, bukan berarti baterai LFP sama sekali tidak bisa terbakar. Yogig mengatakan, pada kondisi tertentu baterai LFP tetap dapat menunjukkan gejala seperti keluarnya asap. Hal ini penting karena risiko kebakaran pada mobil listrik tidak hanya berkaitan dengan jenis kimia baterai. Kerusakan fisik akibat kecelakaan, korsleting, temperatur yang terlalu tinggi, kerusakan sel, hingga gangguan pada sistem kelistrikan tetap perlu diperhatikan. Dengan kata lain, penggunaan baterai LFP bisa menjadi salah satu faktor yang membantu meningkatkan aspek keselamatan, tetapi bukan satu-satunya penentu. Banyak Mobil Listrik di Indonesia Pakai LFP Penggunaan baterai LFP kini cukup banyak ditemui pada mobil listrik yang dipasarkan di Indonesia. Selain jajaran BYD, seperti Atto 1, Dolphin, Atto 3, Seal, M6, dan Sealion 7, baterai LFP juga digunakan pada Jaecoo J5 EV. Mobil listrik tersebut menggunakan baterai LFP berkapasitas 60,9 kWh. Wuling juga menggunakan baterai LFP pada Air ev. Model ini menjadi salah satu mobil listrik yang sejak awal kehadirannya di Indonesia menggunakan baterai tersebut. Kemudian ada Neta V-II yang menggunakan baterai LFP berkapasitas 36,1 kWh. Aion Y Plus juga menggunakan baterai LFP dengan teknologi Magazine Battery. Dari merek Chery, Omoda E5 dan J6 juga menggunakan baterai LFP. Omoda E5 dibekali baterai berkapasitas 61,06 kWh, sedangkan J6 menggunakan baterai LFP dengan kapasitas yang berbeda tergantung variannya. Sementara itu, beberapa model VinFast yang dipasarkan di Indonesia juga menggunakan baterai LFP, termasuk VF 3, VF 5, VF 6, dan VF e34. Artinya, konsumen mobil listrik di Indonesia saat ini cukup banyak memiliki pilihan model yang menggunakan baterai dengan kimia LFP. Ilustrasi booth BYD di GIIAS 2026 Jadi, Apakah LFP Lebih Aman? Secara karakteristik kimia, LFP memang memiliki stabilitas termal yang baik sehingga lebih tahan terhadap kondisi yang dapat memicu thermal runaway dibandingkan sejumlah jenis baterai lithium-ion lain. Pengujian dari beberapa produsen juga menunjukkan baterai LFP dapat bertahan dalam skenario ekstrem tanpa langsung memicu kebakaran. Namun, hal tersebut bukan berarti mobil listrik dengan baterai LFP bebas dari risiko kebakaran. Kondisi baterai setelah kecelakaan, kerusakan pada sel, sistem pendinginan, BMS, instalasi kelistrikan, hingga penanganan kendaraan setelah mengalami benturan tetap menjadi faktor penting. Karena itu, jenis baterai bisa menjadi salah satu pertimbangan ketika memilih mobil listrik, tetapi keamanan kendaraan secara keseluruhan tetap bergantung pada sistem perlindungan dan pengelolaan baterai yang digunakan.