Perkembangan teknologi baterai mobil listrik di China kembali memasuki babak baru. Baterai lithium iron phosphate (LFP) generasi keempat dilaporkan berhasil menembus kepadatan energi lebih dari 200 Wh/kg. Pencapaian tersebut cukup penting mengingat LFP menjadi salah satu jenis baterai yang paling banyak digunakan pada kendaraan listrik di China. Peningkatan kepadatan energi berpotensi membuat baterai menyimpan energi lebih besar tanpa harus menambah bobot secara signifikan. Informasi mengenai teknologi LFP generasi terbaru tersebut disampaikan Ouyang Minggao, akademisi Chinese Academy of Sciences sekaligus profesor Tsinghua University, dalam World Power Battery Conference (WPBC) 2026 di Yibin, Sichuan. Teknologi tersebut menggunakan pendekatan high-compaction LFP, yakni meningkatkan jumlah material aktif katoda yang dapat ditempatkan dalam volume tertentu. Kepadatan material LFP yang dipadatkan disebut berada di kisaran 2,65-2,80 gram per sentimeter kubik, sementara kepadatan energi volumetriknya dapat melampaui 430 Wh/liter. Namun, angka tersebut merupakan parameter pada tingkat material dan sel baterai. Kepadatan energi pada satu paket baterai utuh akan lebih rendah karena masih terdapat sistem pendingin, struktur baterai, sambungan listrik, serta berbagai komponen pendukung lainnya. Gotion sebut porsi harga baterai mobil listrik kini turun menjadi 40-50 persen. LFP Semakin Dominan Pengembangan tersebut menjadi semakin relevan karena LFP kini mendominasi penggunaan baterai kendaraan listrik di China. Sepanjang semester pertama 2026, China mencatat pemasangan baterai kendaraan listrik sebesar 335,6 GWh. Dari jumlah tersebut, baterai LFP menyumbang 272 GWh atau sekitar 81 persen. Selama beberapa tahun terakhir, peningkatan performa baterai LFP tidak hanya berasal dari pengembangan sel, tetapi juga optimalisasi konstruksi paket baterai. to-pack (CTP), misalnya, memungkinkan produsen mengurangi sejumlah komponen atau material tidak aktif di antara sel sehingga ruang di dalam paket baterai dapat dimanfaatkan lebih efektif. CATL telah menerapkan pendekatan CTP, sementara BYD mengembangkan konsep serupa melalui Blade Battery. Namun, ketika optimalisasi struktur paket baterai semakin mendekati batasnya, peningkatan kepadatan energi pada tingkat sel kembali menjadi penting. Sebagai perbandingan, BYD Blade Battery generasi kedua memiliki beberapa format sel. Short Blade memiliki kepadatan energi sekitar 160 Wh/kg, sedangkan Long Blade mampu mencapai sekitar 210 Wh/kg. Angka sekitar 200 Wh/kg pada baterai LFP sendiri masih relatif jarang ditemukan secara luas. Karena itu, pencapaian LFP generasi keempat di atas 200 Wh/kg menunjukkan adanya ruang pengembangan lebih lanjut dari teknologi tersebut. Jarak Tempuh Mobil Listrik Bisa Bertambah Secara sederhana, semakin tinggi kepadatan energi, semakin banyak energi yang dapat disimpan dalam baterai dengan bobot yang sama.