Chief Executive Officer (CEO) Volkswagen atau biasa dikenal VW, Oliver Blume, tengah menyiapkan restrukturisasi besar dalam sejarah perusahaan. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap perubahan struktur industri otomotif global yang semakin kompetitif. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan menghadapi tekanan dari berbagai sisi. Mulai dari meningkatnya dominasi pabrikan asal China, penerapan tarif impor, hingga melemahnya permintaan kendaraan di pasar Eropa yang selama ini menjadi salah satu penopang utama. Kehadiran Rainer Zietlow bersama ID. BUZZ di Indonesia menjadi cara untuk merayakan semangat eksplorasi Volkswagen. Kondisi tersebut turut memicu sorotan terhadap kinerja produsen otomotif terbesar di Eropa itu. Volkswagen dinilai masih dibayangi struktur perusahaan yang kompleks, performa saham yang kurang menggembirakan, serta tantangan dalam menjalankan program efisiensi biaya akibat kepentingan berbagai pemangku kepentingan. Dikutip Reuters, salah satu karakteristik unik VW adalah struktur kepemilikannya yang berbeda dari produsen mobil lain. Hak suara mayoritas perusahaan dikuasai keluarga Porsche dan Piech melalui Porsche SE, sementara serikat pekerja juga memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan. Di sisi lain, grup Volkswagen memiliki jaringan bisnis yang sangat luas, mulai dari berbagai divisi, perusahaan patungan (joint venture), hingga investasi di sejumlah sektor. Struktur konglomerasi yang telah dibangun selama hampir 90 tahun itu dinilai sebagian investor membuat valuasi perusahaan kurang optimal. Pabrik produsen mobil Eropa Volkswagen Posisi di China Terus Melemah Tantangan terbesar Volkswagen saat ini datang dari China, pasar otomotif terbesar di dunia yang selama bertahun-tahun menjadi sumber keuntungan utama perusahaan. Namun kondisi tersebut berubah drastis. Dalam satu dekade terakhir, laba Volkswagen di China dilaporkan merosot lebih dari 80 persen. Akibatnya, perusahaan kini semakin bergantung pada pasar Eropa yang permintaannya belum kembali ke level sebelum pandemi Covid-19, serta pasar Amerika Serikat yang dibayangi tarif impor dengan nilai kerugian mencapai miliaran euro. Persaingan di China juga semakin ketat. Jika sebelumnya Volkswagen menjadi produsen mobil terbesar di negara tersebut, kini posisinya turun ke peringkat ketiga usai tergerus produsen lokal yang menawarkan teknologi lebih maju dengan harga yang lebih kompetitif. Dampak tekanan pasar China juga dirasakan Porsche, merek premium yang berada di bawah naungan Volkswagen Group. Margin keuntungan Porsche anjlok menjadi hanya 1,1 persen pada tahun lalu, jauh lebih rendah dibandingkan 18 persen saat perusahaan melantai di bursa melalui penawaran saham perdana (IPO) empat tahun sebelumnya. Margin Keuntungan Menyusut Tekanan persaingan dan kondisi pasar turut menggerus profitabilitas Volkswagen. Margin laba grup dilaporkan menyusut lebih dari separuh sepanjang periode 2021 hingga 2025. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh semakin ketatnya kompetisi global, meningkatnya biaya tenaga kerja dan energi, lemahnya permintaan kendaraan di Eropa, serta bertambahnya hambatan perdagangan di berbagai negara. Tekanan terhadap margin keuntungan tidak hanya dialami Volkswagen. Produsen lain seperti Stellantis juga menghadapi kondisi serupa. Sementara dua pabrikan asal Amerika Serikat, Ford dan General Motors, mulai menunjukkan tren pemulihan kinerja. Di pasar modal, tekanan terhadap Volkswagen juga terlihat. Nilai saham perusahaan telah turun ke level terendah dalam 16 tahun terakhir atau sejak Juli 2010. Kinerja tersebut juga berada di bawah sejumlah pesaing utama, mencerminkan besarnya tantangan yang kini dihadapi salah satu produsen mobil terbesar di dunia ini.