Penggunaan pendingin udara (AC) menjadi salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari aktivitas berkendara di Indonesia. Namun, bagi pemilik mobil listrik, penggunaan AC terkadang menimbulkan kekhawatiran. Pasalnya, AC mengambil energi dari baterai yang juga menjadi sumber tenaga utama kendaraan. Kekhawatiran tersebut biasanya semakin besar ketika mobil digunakan untuk perjalanan jauh. Pengemudi bisa saja berpikir bahwa mematikan AC akan membuat baterai lebih awet dan jarak tempuh bertambah. Padahal, pada mobil listrik, sistem AC tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan penumpang di dalam kabin. Kepala Teknisi Domo Hybrid EV Yogig Pramono menjelaskan, sistem pendingin pada mobil listrik juga memiliki fungsi untuk membantu menjaga temperatur baterai. Ilustrasi AC mobil "Tidak berpengaruh besar karena AC di mobil listrik bisa mendinginkan baterai juga jadi wajib dinyalakan,” kata Yogig kepada Kompas.com, belum lama ini. Menurut Yogig, menjaga temperatur baterai tetap berada dalam kondisi kerja yang sesuai merupakan bagian penting dari pengoperasian mobil listrik. Temperatur baterai yang terlalu tinggi dapat memengaruhi kinerja dan efisiensi sistem kendaraan. Oleh karena itu, AC tidak sebaiknya dimatikan hanya karena ingin menghemat daya baterai. Jarak Tempuh Meski penggunaan AC tidak memberikan pengaruh besar terhadap jarak tempuh, bukan berarti sistem tersebut tidak menggunakan energi sama sekali. AC pada mobil listrik tetap mendapatkan pasokan daya dari baterai traksi. Artinya, semakin banyak energi yang digunakan untuk mendinginkan kabin, semakin besar pula energi yang terserap dari baterai. Sebanyak 23 mobil listrik murni anggota KOLEKSI mengikuti perjalanan dari Jakarta menuju Pahawang, Lampung. Yogig mengatakan, besarnya pengaruh tersebut salah satunya bergantung pada pengaturan suhu AC. "AC bisa mengurangi jarak tempuh kurang lebih 5 persen tergantung sama setingan dinginnya AC di 17 derajat C atau lebih," kata Yogig. Dengan kata lain, pengaturan suhu kabin turut menentukan konsumsi energi. Pengaturan suhu yang sangat rendah membutuhkan kerja sistem pendingin yang lebih besar dibandingkan suhu yang lebih moderat. Sebagai ilustrasi, apabila sebuah mobil listrik memiliki jarak tempuh 400 kilometer, pengurangan sekitar 5 persen berarti potensi jarak tempuhnya berkurang sekitar 20 kilometer. Dalam kondisi tersebut, jarak tempuh secara teoritis menjadi sekitar 380 kilometer. Namun, angka tersebut bukan patokan mutlak untuk seluruh mobil listrik. Konsumsi energi bisa berubah sesuai dengan kondisi penggunaan kendaraan. Ilustrasi AC mobil kurang dingin Gaya Berkendara Selain penggunaan AC, ada sejumlah faktor lain yang turut memengaruhi konsumsi baterai mobil listrik. Kecepatan kendaraan, gaya pengemudi saat berakselerasi, jumlah penumpang, kondisi jalan, hingga karakter rute perjalanan dapat membuat konsumsi energi berbeda. Penggunaan AC tetap dapat dilakukan sesuai kebutuhan. Pengemudi juga bisa menjaga suhu kabin pada tingkat yang nyaman tanpa harus mengatur temperatur terlalu rendah. Dengan cara tersebut, kenyamanan penumpang tetap terjaga, sementara sistem pengelolaan temperatur baterai dapat bekerja sebagaimana mestinya.