Sebagai varian paling terjangkau dari lini motor listrik VinFast di Indonesia, VinFast Evo menarik perhatian dengan tawaran skema kepemilikan yang tergolong fleksibel. Pabrikan asal Vietnam ini memberikan kebebasan kepada konsumen untuk memilih antara sistem sewa baterai (battery subscription) atau skema beli putus dengan kepemilikan baterai secara penuh. Lantas, untuk pemakaian harian komuter, skema mana yang sebenarnya paling ramah di kantong? Tiga motor listrik baru VinFast di Indonesia Simulasi Harga dan Benefit Launching VinFast Evo dibanderol dengan harga awal Rp 17.500.000 (OTR Jakarta) untuk skema sewa baterai. Sementara jika konsumen memilih untuk membeli unit secara penuh, varian satu baterai dipatok Rp 21.140.000 dan varian dua baterai dijual seharga Rp 24.780.000. Bagi pengguna yang memilih skema sewa, terdapat biaya berlangganan rutin setiap bulannya, yakni Rp 84.000 per bulan untuk satu baterai dan Rp 144.000 per bulan untuk dua baterai (sudah termasuk PPN 11 persen). Pada periode peluncuran, CEO VinFast Indonesia E-Motorcycle Yordan Satriadi, menegaskan bahwa ada keuntungan khusus yang diberikan bagi calon pembeli di tanah air. Mencoba Vinfast Evo di Pabrik Vinfast, Vietnam "Akan mendapatkan free subscription selama satu tahun. Kita berikan tambahan lagi selama satu tahun, sebanyak 20 kali swap per bulan. Kalau merasa belum butuh, itu bisa dikonversi ke dalam rupiah senilai Rp 1.150.000," ujar Yordan di Jakarta. Perhitungan Titik Impas (Break-Even Point) Memperhitungkan promo konversi tunai sebesar Rp 1.150.000, harga bersih untuk beli putus Evo varian satu baterai menjadi Rp 19.990.000. Dengan demikian, terdapat selisih modal awal senilai Rp 2.490.000 jika dibandingkan dengan skema sewa baterai. Mengingat tahun pertama skema sewa sifatnya gratis, iuran bulanan Rp 84.000 baru mulai dibayarkan pada bulan ke-13. Untuk menutup selisih modal awal sebesar Rp 2.490.000, dibutuhkan waktu pembayaran sewa sekitar 29,6 bulan. Jika ditambahkan dengan masa gratis 12 bulan di awal, maka titik impas (break-even point) skema satu baterai berada di angka 41,6 bulan atau sekitar 3 tahun 5,5 bulan. Perhitungan serupa berlaku pada opsi dua baterai. Setelah dipotong klaim promo Rp 1.150.000, harga efektif Evo beli putus dua baterai menjadi Rp 23.630.000, sehingga selisih modal awalnya dengan skema sewa mencapai Rp 6.130.000. Dengan tarif sewa dua baterai sebesar Rp 144.000 per bulan yang dibayar mulai tahun kedua, butuh waktu pembayaran sewa selama 42,5 bulan untuk menyamai selisih modal tersebut. Jika ditambah dengan 12 bulan gratis di tahun pertama, titik impas untuk varian dua baterai berada di angka 54,5 bulan atau sekitar 4 tahun 6,5 bulan. Mana yang Paling Menguntungkan? Berdasarkan simulasi di atas, jika rencana penggunaan VinFast Evo berada di bawah rentang 3,5 hingga 4,5 tahun, skema sewa baterai memberikan efisiensi biaya operasional dan modal awal yang jauh lebih menguntungkan. Pengeluaran di tahun pertama praktis hampir nol untuk urusan sewa baterai. Sebaliknya, opsi beli putus baru menjadi pilihan tepat bagi konsumen yang berniat memakai motor ini dalam jangka panjang di atas 4,5 tahun, sering mengandalkan home charging, serta ingin terbebas dari kewajiban tagihan bulanan.