Mobil listrik mungil VinFast VF3 mulai menarik perhatian konsumen Indonesia, terutama karena desainnya yang unik, dimensi ringkas, serta kemampuan melibas jalan perkotaan. Salah satu pengguna VinFast VF3, Billy, warga Tasikmalaya, Jawa Barat, membagikan pengalamannya selama menggunakan mobil listrik tersebut. Ia mengaku tertarik membeli VF3 karena bentuknya yang berbeda dibanding mobil listrik mungil lainnya. “Bentuknya saya suka,” kata Billy kepada Kompas.com, Jumat (11/9/2026). Menurut Billy, ukuran VF3 yang kecil menjadi salah satu keunggulan utama. Mobil ini dinilai mudah dikendarai dan praktis ketika harus bermanuver atau mencari tempat parkir. VinFast VF3 Lincah dan Mudah Billy mengatakan, ada sejumlah kelebihan yang membuat dirinya nyaman menggunakan VinFast VF3 untuk aktivitas sehari-hari. Selain desain, ia menyukai karakter berkendara VF3 yang menurutnya cukup lincah. Dimensi kompak, ground clearance tinggi, serta penggerak roda belakang (RWD) menjadi beberapa hal yang ia nilai positif. Billy pemilik VinFast VF3 “Lincah, ground clearance tinggi, RWD, akselerasi responsif, radius putar sangat baik,” ujar Billy. Ia juga menilai infrastruktur pengisian daya VinFast melalui jaringan V-Green menjadi nilai tambah. Menurutnya, keberadaan SPKLU V-Green sudah cukup banyak dan menjangkau sejumlah wilayah hingga daerah pelosok. “V-Green SPKLU banyak sampai pelosok,” katanya. Pengguna Soroti Kekurangan Meski memiliki sejumlah kelebihan, Billy juga mengungkap beberapa kekurangan yang ia rasakan selama menggunakan VinFast VF3. Modifikasi VinFast VF3 Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah sistem pendinginan motor listrik dan baterai yang masih menggunakan sistem pasif dengan mengandalkan aliran udara. Menurut Billy, kondisi tersebut dapat berpengaruh ketika mobil digunakan untuk perjalanan jauh dengan kebutuhan pengisian cepat berulang. “Pendingin motor dan baterai masih pasif dari angin,” ujarnya. Ia menjelaskan, ketika suhu baterai sudah mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, kemampuan fast charging dapat menurun. Akibatnya, pengisian cepat tidak bisa dilakukan berkali-kali dalam satu perjalanan. “Soal pendingin, fast charge jadi enggak bisa berkali-kali. Jika sudah di atas 40 derajat Celsius jadi lambat chargenya, biasanya maksimal dua kali dalam sehari atau seperjalanan,” kata Billy. Ia juga menyoroti performa pendinginan motor ketika mobil digunakan pada kondisi tertentu. Menurutnya, penggunaan di jalan raya dengan tanjakan masih tidak menjadi masalah, tetapi kondisi berbeda ketika mobil berjalan perlahan di medan berat. “Pendingin motor masih pakai angin. Kalau merayap pelan di bawah 5 km per jam di jalan nanjak hancur semi offroad rawan overheat. Di jalan raya nanjak-nanjak sih enggak ada masalah,” ucap Billy. Selain sistem pendinginan, jarak tempuh menjadi salah satu hal yang menurut Billy perlu diperhatikan calon pengguna. Menurut dia, daya jelajah VinFast VF3 masih tergolong pendek sehingga pengguna perlu lebih memperhitungkan rute perjalanan, terutama jika digunakan untuk perjalanan luar kota. Racksteer dan Gardan Selain aspek teknis terkait baterai dan motor listrik, Billy juga mengaku menemukan suara yang berasal dari bagian racksteer dan gardan. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu kekurangan yang ia rasakan selama menggunakan VinFast VF3. Meski begitu, secara keseluruhan Billy tetap menilai VinFast VF3 memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi pengguna yang membutuhkan mobil listrik berukuran kecil dengan karakter lincah dan mudah dikendarai di perkotaan.