Pagi hari selalu dimulai dengan rutinitas yang hampir sama. Menyalakan kendaraan, berangkat bekerja, mengantar anak, mampir membeli kebutuhan, bertemu pelanggan, hingga pulang kembali ke rumah. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, sepeda motor menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian aktivitas tersebut. Karena itu, ketika kendaraan listrik mulai hadir sebagai alternatif, pertanyaan masyarakat sebenarnya sederhana: apakah motor listrik bisa senyaman dan semudah motor yang selama ini digunakan? Pertanyaan tersebut menjadi penting karena transisi menuju kendaraan listrik bukan hanya persoalan mengganti mesin berbahan bakar bensin dengan motor listrik. Ada kebiasaan yang ikut berubah, terutama terkait pengisian energi. VinFast mencoba menjawab persoalan itu bukan hanya melalui produk, tetapi lewat ekosistem. Kehadiran motor listrik VinFast di Indonesia dibarengi dengan jaringan infrastruktur V-GREEN, termasuk Battery Swap Station (BSS) yang memungkinkan pengguna menukar baterai ketika daya mulai menipis. Pendekatan ini membuat aktivitas menggunakan motor listrik terasa lebih sederhana. Pengguna tidak selalu harus menunggu baterai terisi penuh untuk kembali melanjutkan perjalanan. Bagi seseorang yang memiliki mobilitas tinggi, perbedaan tersebut bisa sangat berarti. VinFast EVO mengusung desain modern yang dipadukan dengan empat pilihan warna, yaitu Green Olive, Black Solid, Red Candy Tone, dan White Cyan. Bayangkan seorang pekerja yang harus berpindah dari rumah menuju kantor, kemudian bertemu beberapa klien di lokasi berbeda. Atau pengemudi yang dalam satu hari harus menempuh puluhan kilometer untuk menjalankan berbagai keperluan. Dalam kondisi seperti itu, waktu menjadi sesuatu yang berharga. Menunggu pengisian baterai selama berjam-jam tentu bukan pilihan ideal. Di sinilah konsep battery swap menjadi menarik. Baterai yang sudah digunakan dapat ditukar dengan baterai yang telah terisi di stasiun penukaran. VinFast menyebut proses tersebut dirancang agar berlangsung cepat dan praktis. “Hanya butuh beberapa menit. Buka aplikasinya. Scan QR Code-nya. Tukar baterai yang lama dengan yang baru. Sesimple itu, Pak. Gak perlu nunggu berjam-jam,” ujar Yordan Satriadi, CEO VinFast eScooter Indonesia Market beberapa waktu lalu di Jakarta. Pernyataan tersebut memperlihatkan satu hal penting: bagi VinFast, elektrifikasi bukan sekadar menawarkan kendaraan dengan teknologi berbeda, tetapi bagaimana teknologi itu dapat mengikuti kebutuhan pengguna. Sebab, pada akhirnya konsumen tidak membeli teknologi hanya karena teknologinya canggih. Mereka membelinya karena teknologi tersebut bisa membuat hidup lebih mudah. Battery Swap Station VinFast E-Motorcycle sudah tembus 2.000 titik di Indonesia Ekosistem Menjadi Kunci Strategi tersebut sudah terlihat sejak sebelum VinFast resmi memasarkan motor listriknya di Indonesia. Yordan sebelumnya menegaskan bahwa pendekatan VinFast untuk menggarap pasar roda dua Indonesia akan berbeda, dengan mengedepankan ekosistem yang dimiliki perusahaan. “Strategi VinFast e-Scooter akan memakai pendekatan yang berbeda dengan mengedepankan ekosistem yang dimiliki oleh VinFastm” kata Yordan. Menurut Yordan, pendekatan tersebut diarahkan untuk memberikan kemudahan kepada konsumen ketika membeli dan menggunakan motor VinFast. Artinya, pengalaman pengguna tidak berhenti ketika motor keluar dari dealer. Ada jaringan infrastruktur yang bekerja di belakangnya.