Salah satu faktor terbesar yang kerap membuat masyarakat ragu beralih ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV) adalah ketidakpastian harga jual kembali atau resale value. Pengamat otomotif Yannes Martinus menilai, penurunan nilai jual bekas pada lini mobil listrik di awal kemunculannya tergolong tajam dan memicu kecemasan di kalangan calon pembeli kelas menengah. "Depresiasi harga mobil listrik sempat bikin anxiety. Ada brand Korea yang begitu tahun pertama dipakai selesai, harganya turun 40 sampai 50 persen. Bahkan brand Jepang hybrid dipakai dua tahun turun 30 persen. Ngeri kan?" ujar Yannes di GIIAS 2026 belum lama ini. Pameran GIIAS 2026 Dilema Konsumen Kelas Menengah Yannes menjelaskan, kecemasan akan harga bekas yang anjlok menjadi isu krusial, mengingat mayoritas pembeli kendaraan di rentang harga Rp 100 juta hingga Rp 400 jutaan berasal dari kelompok middle class. Berbeda dengan konsumen kelas atas yang membeli kendaraan tanpa terlalu memikirkan harga jual kembali, konsumen kelas menengah cenderung berhitung dengan sangat rinci atas setiap pengeluaran. "Konsumen milenial yang mau beli itu sudah mikir kalau dijual lagi gimana. Karena ekonomi lagi tantangan, dia berhitung setiap sen yang keluar sesudah memiliki. Jangan sampai begitu mau dijual harga baterainya saja setengah harga mobil baru, akhirnya enggak ada harganya dan sakit hati," katanya Proteksi Nilai di Level Korporasi Untuk mengatasi fenomena ketakutan konsumen terhadap depresiasi harga EV, Yannes menekankan pentingnya komitmen pabrikan untuk hadir memberikan lindung nilai (residual value protection). Menurutnya, penanganan ketidakpastian purna jual tidak bisa hanya diserahkan pada jaringan diler, melainkan harus dipasangi garansi resmi oleh prinsipal manufaktur di tingkat korporasi. "Di sinilah perlunya pabrikan menjual ekosistem sampai end of product. Kalau manufaktur berani memasang benchmark harga bekas di tahun ketiga, depresiasi itu sebenarnya bisa tertutup oleh efisiensi biaya operasional harian," tuturnya. VinFast VF 3 di GIIAS 2026 Skema 'Buyback Guarantee' VinFast Pendekatan berani yang diterapkan pabrikan asal Vietnam, VinFast, melalui program jaminan beli kembali hingga kisaran 70 persen setelah tiga tahun kepemilikan, dinilai Yannes sebagai langkah strategis yang membedakan pemain baru dari merek-merek lama. Keberanian pasang badan dari pihak manufaktur untuk menanggung risiko depresiasi dinilai mampu memberikan rasa tenang yang dibutuhkan pasar massal. "Ini strategi branding dan model bisnis yang berbeda. Ketika manufaktur berani menanggung risiko itu dan menjamin nilai jualnya, rasa cemas konsumen hilang. Langkah ini yang akan menarik masyarakat kelas menengah untuk mantap beralih ke mobil listrik," pungkas Yannes.