Tingginya efisiensi biaya operasional harian menjadi salah satu alasan utama masyarakat mulai mempertimbangkan beralih dari kendaraan berbasis bahan bakar minyak (BBM) ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Namun, bagi konsumen kelas menengah di Indonesia, keputusan untuk meminang mobil listrik tidak sekadar didasari oleh desain yang menarik atau deretan fitur canggih. Pengamat otomotif Yannes Martinus menilai bahwa kepastian purna jual serta jaminan nilai kendaraan merupakan syarat mutlak untuk menghapus rasa cemas (anxiety) calon pembeli. Busana usher VinFast yang unik di GIIAS 2026, pakai Ao Dai Alasan Beralih dari Mobil Bensin Yannes mengungkapkan bahwa biaya operasional kendaraan konvensional untuk penggunaan harian di kawasan perkotaan bisa menyedot pengeluaran yang cukup besar. Kondisi tersebut kian diperparah oleh tren kenaikan harga mobil bensin yang secara rutin naik 5 hingga 7 persen setiap tahun, tanpa diimbangi oleh lonjakan daya beli masyarakat maupun lompatan teknologi yang signifikan. "Daya beli masyarakat rata-rata hanya naik 2,4 sampai 2,5 persen per tahun, tetapi harga mobil bensin naik terus 5 sampai 7 persen dengan perubahan yang hanya minor change. Di sisi lain, mobil listrik menawarkan efisiensi biaya operasional harian yang jauh lebih murah," ujar Yannes. Test Drive VinFast di GIIAS 2026 Menghapus 'Anxiety' Kelas Menengah Meski hemat biaya operasional, Yannes menyoroti keberadaan konsumen kelas menengah di segmen harga Rp 100 juta hingga Rp 400 jutaan yang sangat sensitif terhadap risiko kepemilikan. Ketakutan akan depresiasi harga bekas yang anjlok, biaya penggantian baterai, serta ketersediaan sarana pengisian daya menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, konsumen di segmen ini membutuhkan peace of mind atau rasa tenang jangka panjang dari pabrikan. "Pembeli kelas menengah itu berhitung untuk setiap sen yang dikeluarkan. Mereka mencari efisiensi biaya dan ingin menghilangkan ketidakpastian, seperti mau servis di mana, charging di mana, hingga bagaimana harga jual kembali nanti," kata Yannes. Pentingnya Model Bisnis dan Garansi Ekosistem Menanggapi tantangan tersebut, skema bisnis yang diusung pabrikan seperti VinFast, melalui pendekatan berlangganan baterai (battery subscription), jaminan nilai jual kembali (resale value guarantee), hingga garansi purna jual yang panjang, dinilai Yannes sebagai langkah progresif untuk mendobrak pasar. Menurutnya, keberanian pabrikan untuk menanggung risiko kepemilikan merupakan strategi branding yang membedakan pemain baru dengan penguasa pasar lama. Kehadiran ekosistem jaminan di tingkat korporasi akan memberi rasa aman bagi konsumen yang ingin menjadikan EV sebagai mobil utama mereka. "Konsumen sekarang makin smart. Kalau ada brand yang berani memberikan kepastian dan menanggung risiko purna jual sampai end of product, itu akan menarik konsumen yang tadinya ragu menjadi mantap beralih ke mobil listrik," pungkas Yannes.