Mobil listrik kian dilirik sebagai kendaraan harian, terutama di perkotaan. Salah satunya ialah Wildan yang memilih VinFast VF3 sebagai mobil listrik pertama. Wildan mengatakan, keputusan membeli mobil listrik tersebut bukan karena kebutuhan utama. Sebelumnya dia sudah memiliki mobil yang lain. Vinfast VF3 “Ini memang mobil listrik pertama saya. Tapi bukan mobil utama, karena sebelumnya sudah punya mobil konvensional,” ujarnya kepada Kompas.com, belum lama ini. Ketertarikan Wildan terhadap mobil Vietnam ini berawal dari desain. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2025, ia langsung menyukai tampilannya yang dinilai unik dan berbeda. Wildan mengatakan pada awalnya ia masih ragu terhadap merek VinFast. Seiring waktu, kepercayaan mulai tumbuh setelah melihat populasinya yang semakin banyak, serta adanya pengembangan fasilitas di Indonesia. VinFast VF3 Keputusan pembelian akhirnya dilakukan saat mengunjungi pameran Indonesia International Motor Show (IMS) 2026 dan langsung melakukan pemesanan kendaraan (SPK). “Saya ambil yang program baterai subscription. Tambahannya per bulan Rp 256.000. Harganya masih masuk akal, apalagi ada garansi seumur hidup," katanya. Selain harga, Wildan mengatakan, salah satu petimbangannya ialah dari sisi penggunaan. Ukuran mobil yang kompak menjadi nilai tambah karena memudahkan saat mencari parkir maupun melintasi jalan sempit di dalam kota. “Jadi lebih tenang kalau masuk jalan kecil. Buat dalam kota juga jarak tempuhnya cukup, klaimnya 210 km,” ujarnya. Handover Vinfast VF3 Satu Bulan Namun, bukan tanpa kekurangan. Wildan mengaku menemukan suara saat mobil berjalan mundur, serta merasa bagian kaki-kaki depan belum terlalu kokoh. "Untuk kekurangannya, saya menemukan suara ‘gerdek’ saat mundur, seperti di gigi mundur. Tapi setelah saya lihat di beberapa review, ternyata memang yang merasakan hal yang sama," ujarnya. "Selain itu, bagian kaki-kaki depan terasa kurang kokoh. Tapi saya belum berani melakukan perubahan karena khawatir memengaruhi garansi," kata Wildan. Di bagian interior, Wildan menilai posisi jok dinilai terlalu rendah, terutama bagi pengguna dengan tinggi badan sekitar di atas 170 cm. Handover Vinfast VF3 "Dengan tinggi badan saya sekitar 176 cm, posisi kaki jadi agak kurang nyaman di bagian lutut. Setir juga belum teleskopik, jadi tidak bisa diatur maju-mundur, hanya terasa statis," katanya. Mobil mungil sudah pasti kerepotan soal kapasitas. Wildan mengatakan, bagasi paling cuma cukup buat barang kecil. Puncak Dalam penggunaan sekitar satu setengah bulan, mobil ini sudah menempuh jarak hampir 900 km. Servis pertama ialah 10.000 Km, sehingga saat ini belum ada pengeluaran servis. Wildan mengatakan juga sempat menjajal perjalanan ke kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat pada malam hari di atas pukul 22.00 WIB, dan menilai performanya masih memadai untuk menanjak. "Mobilnya masih sanggup menanjak dengan empat penumpang," kata Wildan. Charging Kendala lain justru ditemui pada aspek pengisian daya. Ia mengaku belum pernah menggunakan fasilitas charger milik VinFast karena sering dipenuhi antrean, terutama oleh taksi. “Jadi saya lebih sering isi di SPKLU umum, seperti dari PLN atau operator lain,” ujar Wildan. Meski demikian, ia tetap menikmati penggunaan mobil tersebut. Baginya, selama mobil tidak mengalami masalah besar, desain yang menarik sudah menjadi alasan utama untuk memilikinya. “Yang penting mobilnya jalan dan tidak mogok. Saya memang suka modelnya, jadi lebih dinikmati saja,” kata Wildan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang