Plafon mobil yang mengendur atau turun masih menjadi masalah yang kerap ditemui, terutama pada mobil-mobil Eropa. Kondisi ini biasanya muncul seiring usia pakai kendaraan. Leonard, pemilik Indoleather, bengkel spesialis interior di Bogor menjelaskan, konstruksi plafon mobil terbagi menjadi dua jenis, yakni model gantung dan tempel. Perbedaan ini berpengaruh besar terhadap potensi kerusakan. “Kalau gantung hampir jarang turun, hampir 99 persen. Yang turun itu biasanya model tempel,” ujar Leonard kepada Kompas.com belum lama ini. Ia menambahkan, kasus plafon turun lebih sering ditemukan pada mobil Eropa dibandingkan Jepang. Bahkan, untuk mobil Jepang di segmen serupa, kejadian tersebut relatif jarang terjadi. Perbaikan plafon mobil turun Menurut Leonard, faktor utama penyebabnya diduga berasal dari kondisi iklim tropis di Indonesia. Suhu panas yang tinggi membuat daya rekat lem pada plafon menjadi melemah. Biasanya, gejala awal plafon akan terlihat menggembung sedikit sebelum akhirnya mengendur secara menyeluruh. Proses ini berlangsung bertahap hingga bagian plafon terlihat melorot. Terkait perbaikan, Leonard menjelaskan ada dua metode yang umum dilakukan, yakni lem ulang atau ganti bahan plafon. Pilihan ini bergantung pada kondisi material yang ada. “Kalau dia tidak kotor, kita bisa tempel ulang,” kata Leonard. Perbaikan plafon mobil turun Namun, proses lem ulang tidak bisa dilakukan sembarangan. Ia menegaskan, bahan lem yang digunakan berbeda dengan lem biasa karena harus menyesuaikan karakter material plafon. “Lemnya juga bukan lem kayak sandal ditempel begitu, ada campuran. Biar bahan plafon yang tipis itu bisa nempel,” ujarnya. Ia juga menyebut, material plafon mobil cenderung lebih tipis dibandingkan jok. Umumnya menggunakan bahan beludru atau fabric halus yang rentan rusak saat proses perbaikan. “Kalau salah lem, bisa tembus jadi kuning-kuning,” kata dia. Soal biaya, Leonard menyebut perbaikan plafon mobil dimulai dari Rp 1,5 juta untuk mobil dua baris. Namun, harga bisa lebih tinggi tergantung jenis dan tingkat kesulitannya. “Tergantung mobilnya juga, misalnya S-Class, pasti di atas itu karena risikonya lebih panjang. Tapi rata-rata sih Rp 1,5 juta,” ucap Leonard. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang