Mobil hybrid semakin diminati karena dinilai irit bahan bakar dan lebih ramah lingkungan. Namun di balik keunggulan tersebut, masih ada satu hal yang kerap menjadi ganjalan calon konsumen, yakni estimasi biaya perbaikan, terutama saat kendaraan sudah melewati masa garansi pabrikan. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Mobil hybrid memiliki sejumlah komponen khusus yang tidak ditemui pada mobil konvensional, seperti baterai hybrid, motor generator, hingga inverter. Jika salah satu komponen tersebut bermasalah, biaya perbaikannya bisa cukup besar. Meski demikian, tidak semua kerusakan mobil hybrid selalu berujung mahal, tergantung jenis komponen dan tingkat kerusakan yang terjadi. Menurut Lung Lung, pemilik bengkel spesialis Dokter Mobil, biaya perbaikan mobil hybrid memang perlu dipahami sejak awal agar konsumen tidak kaget di kemudian hari. Ia mencontohkan Toyota Camry Hybrid sebagai salah satu model hybrid yang cukup umum ditemui di Indonesia, sehingga bisa dijadikan gambaran estimasi biaya perbaikan. “Komponen paling mahal di mobil hybrid itu tetap baterai hybrid-nya,” ujar Lung Lung kepada Kompas.com, Minggu (25/1/2026). Untuk Toyota Camry Hybrid, satu set baterai hybrid dibanderol sekitar Rp 68 juta dan angka tersebut belum termasuk ongkos pemasangan. Meski mahal, baterai hybrid umumnya memiliki usia pakai yang panjang dan jarang mengalami kerusakan mendadak jika pemakaian serta perawatannya normal. Ilustrasi baterai mobil hybrid. Selain baterai, motor generator juga termasuk komponen dengan nilai tinggi. Lung Lung menyebut, biaya penggantian motor generator pada Camry Hybrid bisa mencapai kisaran Rp 90 jutaan. Komponen ini berperan penting dalam sistem penggerak sekaligus proses regenerasi energi, sehingga jika mengalami gangguan, performa mobil bisa menurun drastis. Sementara itu, inverter hybrid yang berfungsi mengatur aliran listrik dari dan ke baterai memiliki biaya yang relatif lebih rendah dibanding dua komponen utama sebelumnya. Untuk Camry Hybrid, estimasi harga inverter berada di kisaran Rp 20 jutaan, tergantung kondisi kerusakan serta ketersediaan suku cadang di pasaran. Berbeda dengan komponen kelistrikan hybrid, urusan mesin bensin pada mobil hybrid relatif sama dengan mobil konvensional. Lung Lung menjelaskan, jika terjadi kerusakan mesin dan harus dilakukan turun mesin, biayanya masih tergolong standar. “Kalau turun mesin, ganti komponen ini-itu, kisarannya Rp 20 jutaan, tergantung kerusakannya, plus-plus sesuai kondisi,” kata Lung Lung. Dari gambaran tersebut, Lung Lung menegaskan bahwa biaya perbaikan mobil hybrid memang bisa mahal apabila menyentuh komponen utama sistem hybrid. Namun, selama perawatan rutin dilakukan dan potensi kerusakan bisa dicegah sejak dini, mobil hybrid tidak selalu identik dengan biaya perbaikan yang menakutkan bagi pemiliknya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang