Meski dikenal irit, saat berkendara mobil hybrid pengemudi sebaiknya tidak membiarkan bensin berada di level rendah. Sama halnya dengan mobil konvensional, ketika kehabisan bensin maka otomatis mobil dapat mogok di jalan. Pada mobil hybrid, sistem akan membaca kondisi tersebut sebagai masalah utama, yakni mesin bakar yang tidak bisa menyala. Muchlis, pemilik bengkel spesialis Toyota–Mitsubishi Garasi Auto Service Sukoharjo, mengatakan mobil hybrid tidak bisa mengaktifkan mode EV ketika mesin bakar terdeteksi tidak dapat menyala. “Misalnya mesin bakar tidak bisa menyala karena kehabisan bensin, maka sistem akan merespons dengan menonaktifkan mode hybrid. Dampaknya, mobil tidak bisa dioperasikan atau mogok,” ucap Muchlis kepada KOMPAS.com, Selasa (20/1/2026). Seharusnya, mesin bakar pada mobil hybrid akan hidup ketika dibutuhkan, seperti saat daya baterai menipis atau ketika pengemudi melakukan akselerasi. Namun, ketika bahan bakar habis, sistem akan membaca mesin bakar tersebut sudah tidak mampu menyala. “Bagaimanapun, peran mesin bakar cukup krusial, tidak hanya sebagai penggerak roda, tetapi juga sebagai generator pengisi daya baterai. Tanpanya, sistem hybrid tidak akan berjalan,” kata Muchlis. Ilustrasi SPBU. Benarkah isi BBM saat siang hari jumlahnya lebih sedikit? Oleh karena itu, pengendara mobil hybrid jangan sampai salah paham dengan keberadaan mode EV yang hanya bisa aktif sementara. Perlu dicatat, kapasitas baterai mobil hybrid cenderung lebih kecil dibanding mobil listrik murni (BEV) maupun plug-in hybrid (PHEV). “Setelah bensin diisi, mobil hybrid akan kembali bekerja normal, diawali dengan mesin bakar yang menyala untuk mengisi daya baterai serta menggerakkan roda saat mobil dioperasikan,” ujar Muchlis. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang