Pemilik mobil Eropa perlu mulai waspada ketika usia kendaraan memasuki lima tahun pemakaian. Pada rentang usia tersebut, plafon mobil berpotensi mengalami penurunan atau mengendur. Leonard, pemilik Indoleather, bengkel spesialis interior di Bogor, menyebut fenomena ini cukup sering ditemui di Indonesia. Terutama pada mobil dengan konstruksi plafon model tempel. “Feeling saya sih di atas lima tahun (mulai turun),” ujar Leonard kepada Kompas.com Jumat (3/4/2026). servis plafon turun Ia menjelaskan, kondisi iklim tropis dengan suhu panas tinggi seperti di Indonesia diduga menjadi penyebab utama melemahnya daya rekat lem plafon. Akibatnya, material atau kain di atap perlahan terlepas dari rangkanya. “Secara logika (karena) iklim, kepanasan. Lemnya kalah sama panas. Di sini kan tropis, jadi banyak yang turun,” kata dia. Gejala awal biasanya ditandai dengan permukaan plafon yang mulai menggembung di beberapa titik. Jika dibiarkan, kondisi tersebut akan semakin meluas hingga seluruh bagian terlihat melorot. “Pertama ngejendol dulu dikit, terus lama-lama banyak,” ucap Leonard. Menariknya, ia menyebut masalah ini juga masih ditemukan pada mobil modern, meski tidak semua unit mengalaminya. Namun, untuk mobil keluaran terbaru, kasus plafon turun masih jarang ditemui. “Yang 2025, 2024, 2023, saya belum ketemu. Terakhir itu sekitar 2017-2018 sudah ada yang kena,” kata Leonard. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang