Mobil-mobil Eropa memang dikenal memiliki kualitas dan kenyamanan yang baik. Tapi seiring pemakaian, ada satu masalah interior yang cukup sering muncul, terutama pada unit yang sudah berumur, yakni plafon kabin yang mulai turun atau mengelupas. Kondisi ini bukan tanpa sebab. Menurut Juan Elian, Owner Masterpiece Indonesia, material yang digunakan pada plafon mobil Eropa ternyata memiliki karakteristik berbeda dan tidak selalu cocok dengan kondisi iklim di Indonesia. “Karena di Eropa itu plafonnya ada busanya. Busanya itu mungkin tidak cocok dengan kelembaban udara di Indonesia. Jadi rata-rata kalau mobil Eropa setelah sekian tahun dipakai, busanya kering. Bukan lemnya jelek. Busanya kering sehingga kainnya lepas,” ujar Juan, saat ditemui Kompas.com, di Jakarta Barat, Senin (6/4/2026). plafon mobil Artinya, masalah plafon turun ini bukan semata karena kualitas lem yang buruk, melainkan karena lapisan busa di balik kain plafon yang sudah mengering akibat usia dan pengaruh kelembapan udara. Untuk penanganannya, Juan menjelaskan ada dua metode yang bisa dilakukan, tergantung kondisi kerusakan. “Itu cara perbaikan kita ada dua macam sebenarnya. Kita bisa ganti bahan yang menyerupai, atau kita bisa reparasi. Tapi reparasi itu tergantung seberapa parah kerusakan kain aslinya. Tidak bisa misalnya dipukul rata semua reparasi,” kata dia. Andrew Shandy, Marketing sekaligus Kepala Produksi Masterpiece Auto Interior, menambahkan gejala plafon mulai turun umumnya muncul saat mobil Eropa memasuki usia tertentu. “Eropa itu biasanya di atas 5-6 tahun sudah mulai sedikit turun,” ujar Shandy. Soal biaya, perbaikannya juga bervariasi tergantung tingkat kerusakan. Untuk model seperti BMW Seri 3, Seri 5, atau Mercedes-Benz C-Class dan E-Class, kisaran biayanya masih relatif terjangkau. “Kalau Rp 2,5 juta itu biasanya dia yang baru turun sedikit langsung perbaikan. Itu bahan dia bisa dipakai lagi,” kata Andrew. Namun jika kondisi plafon sudah cukup parah, opsi yang diambil biasanya bukan sekadar perbaikan ringan. “Tapi kalau turunnya sudah banyak, dipasang lagi akan tekor. Tidak bisa, mesti ganti bahan. Jadi kalau untuk secara kasar Rp 2,5 juta itu pakai bahan asli lagi. Tapi kalau Rp 3,5 juta ganti bahan,” ucapnya. Dengan kata lain, semakin cepat ditangani saat gejala awal muncul, peluang untuk mempertahankan material asli masih terbuka dan biaya bisa lebih ditekan. Sebaliknya, jika dibiarkan terlalu lama, pemilik mobil harus siap mengeluarkan biaya lebih untuk penggantian bahan plafon secara menyeluruh. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang