Lembaga riset industri kendaraan listrik dan rantai pasok baterai, Benchmark Mineral Intelligence, mencatat penjualan mobil listrik global pada Februari 2026 mengalami penurunan 11 persen menjadi 1,1 juta unit. Secara kumulatif, penjualan mobil listrik global sepanjang Januari–Februari 2026 mencapai 2,2 juta unit atau turun 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data Manager Benchmark Mineral Intelligence, Charles Lester menyampaikan, penurunan dipicu oleh tekanan di sejumlah pasar utama seperti China dan Amerika Utara. Ilustrasi mobil listrik. Pemerintah kembali menerapkan insentif pajak yang ditanggung pemerintah untuk pembelian kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pada tahun 2025. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu. Tekanan China dan Amerika Utara Pasar China masih menjadi yang terbesar dengan 1,1 juta unit secara year-to-date (YTD) tapi turun 26 persen. Kondisi ini dipengaruhi penerapan kembali pajak pembelian serta penyesuaian skema trade-in, yang menekan permintaan domestik hingga turun 32 persen secara tahunan. Meski demikian, ekspor tetap menjadi penopang dengan lonjakan lebih dari dua kali lipat dalam dua bulan pertama 2026, melampaui 500.000 unit. Sementara itu, Amerika Utara mencatat kontraksi terdalam sebesar 36 persen menjadi 0,17 juta unit, terutama akibat melemahnya pasar di Amerika Serikat. Penjualan BEV sejumlah produsen turun tajam, termasuk Ford (minus 70 persen), Honda (minus 81 persen), dan Kia (minus 52 persen). Dampaknya merembet ke rantai pasok, dengan SK On memangkas tenaga kerja di fasilitasnya di Georgia. “Eropa menjadi mesin pertumbuhan, sementara Amerika Utara masih tertekan dan China tengah menyesuaikan diri dengan perubahan kebijakan domestik, meski ekspor tetap meningkat,” kata Lester dalam keterangan resmi, Selasa (17/3/2026). Stasiun pengisian daya ultra-cepat DC 480 kW co-branding Xpeng x Voltron buat mobil listrik hadir di Tangerang. Eropa Masih Tumbuh Berbeda dengan dua kawasan tersebut, Eropa justru mencatat pertumbuhan 21 persen dengan total 0,6 juta unit. Kenaikan ini ditopang kebijakan insentif di Jerman dan Prancis yang masing-masing naik 26 persen dan 30 persen secara YTD. Italia bahkan melonjak 98 persen setelah didorong program subsidi besar dari Uni Eropa. Di luar pasar utama, pertumbuhan juga terlihat kuat dengan kenaikan 84 persen menjadi 0,37 juta unit. Korea Selatan menjadi salah satu pendorong utama setelah mencatat lonjakan lebih dari tiga kali lipat secara bulanan menjadi sekitar 37.200 unit. Untuk pertama kalinya, tingkat penetrasi kendaraan listrik di negara tersebut mencapai 30 persen, didorong kebijakan subsidi baru yang menyasar model lebih terjangkau. Dengan kondisi ini, industri kendaraan listrik global memasuki 2026 dalam fase penyesuaian, dengan perbedaan kinerja antarwilayah yang semakin tajam. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang