Percepatan elektrifikasi angkutan umum kian mendesak di tengah tekanan krisis energi global. Lebih dari sekadar tren teknologi, transportasi massal sejatinya merupakan kebutuhan dasar warga yang wajib dipenuhi negara. Elektrifikasi pada angkutan umum dinilai jadi solusi strategis untuk menjaga ketahanan energi dan menekan biaya hidup masyarakat. Pandangan ini disampaikan oleh Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), yang menilai momentum pengembangan angkutan umum di daerah mulai menunjukkan arah positif. Angkot listrik Foton eTruckMate Sejumlah pemerintah daerah dinilai telah mampu membiayai operasional transportasi modern secara mandiri melalui APBD, sebagai bentuk prioritas terhadap mobilitas publik. Menurutnya, langkah tersebut perlu diperluas dan diperkuat dengan perubahan orientasi penggunaan anggaran di tingkat daerah. Infrastruktur transportasi, baik jaringan jalan maupun layanan angkutan umum, seharusnya menjadi prioritas utama dibandingkan belanja penunjang birokrasi yang berlebihan. Bus listrik melayani masyarakat di IKN “Sudah saatnya kita mengaudit orientasi penggunaan anggaran di tingkat kabupaten dan kota yang sering kali melenceng dari kebutuhan riil masyarakat,” ujar Djoko, kepada Kompas.com (2/4/2026). “Infrastruktur transportasi, baik berupa jaringan jalan yang mantap maupun layanan transportasi umum yang andal, adalah kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi oleh pemerintah daerah,” ujar dia. Dalam konteks yang lebih luas, transportasi umum tidak hanya berfungsi sebagai sarana mobilitas, tetapi juga menjadi tulang punggung perekonomian dan instrumen keadilan sosial. Operasional bus listrik di Jalan Pemuda, Kota Semarang, Jawa Tengah.  Kehadirannya mampu menekan biaya transportasi, meningkatkan efisiensi ekonomi, serta memperkuat ketahanan energi nasional. Hal ini menjadi semakin relevan ketika dunia menghadapi ketidakpastian pasokan energi. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil membuat sistem transportasi rentan terhadap gejolak global. Karena itu, elektrifikasi angkutan umum dinilai sebagai langkah strategis untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih stabil dan berkelanjutan. Angkot Listrik Bogor Selain itu, sistem transportasi publik yang kuat juga berperan penting dalam pemerataan aksesibilitas. Dengan jaringan yang terintegrasi, masyarakat di berbagai wilayah, baik perkotaan maupun daerah terpencil, dapat menikmati mobilitas yang lebih mudah, aman, dan terjangkau. Djoko menegaskan, pemerintah perlu mempercepat transisi menuju transportasi umum berbasis listrik secara menyeluruh. Ilustrasi bus listrik DAMRI. Tidak hanya di kota besar, tetapi juga menjangkau wilayah perdesaan, kawasan transmigrasi, hingga daerah 3TP (terpencil, terluar, tertinggal, dan pedalaman). “Alokasi APBD seharusnya tidak lagi terserap untuk belanja penunjang birokrasi yang berlebihan, melainkan dikembalikan fungsinya untuk menjamin mobilitas warga,” katanya. Dengan pendekatan yang inklusif, elektrifikasi transportasi tidak hanya menjadi simbol modernisasi, tetapi juga berfungsi sebagai katalisator pemerataan pembangunan. Di tengah krisis energi global, langkah ini dinilai menjadi kunci untuk memastikan masyarakat tetap memiliki akses mobilitas yang terjangkau, efisien, dan berkelanjutan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang