Krisis energi yang melanda sejumlah negara, termasuk Filipina, menjadi alarm bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Sektor transportasi, yang masih sangat bergantung pada bahan bakar minyak (BBM), dinilai menjadi salah satu titik paling rentan terhadap gejolak pasokan dan harga energi global. Kondisi tersebut mendorong perlunya percepatan transformasi menuju teknologi kendaraan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Elektrifikasi melalui kendaraan listrik dan hybrid pun mulai dipandang bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor. Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, dalam skenario darurat energi seperti yang terjadi di Filipina, peran EV, HEV, dan PHEV, sebenarnya sangat strategis sebagai instrumen mitigasi ketergantungan terhadap BBM impor. Mobil hybrid Rp 300 jutaan "EV menjadi solusi paling kuat, karena sepenuhnya tidak bergantung pada bahan bakar fosil, meskipun efektivitasnya tetap terkait dengan stabilitas dan bauran listrik nasional yang saat ini masih didominasi batu bara," ujar Yannes, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. "Sementara itu, HEV menjadi opsi transisi paling realistis, karena mampu menghemat konsumsi BBM sekitar 30–50 persen tanpa membutuhkan infrastruktur charging masif," kata Yannes. Yannes menambahkan, PHEV menawarkan fleksibilitas optimal dengan kombinasi mode listrik untuk jarak pendek, serta mesin konvensional untuk jarak jauh. Wuling Darion PHEV "Dalam konteks krisis, lonjakan harga BBM justru berfungsi sebagai katalis percepatan adopsi. Ke depannya, permintaan kemungkinan besar akan didorong lebih dulu oleh HEV dan PHE,V karena faktor harga dan kemudahan adaptasi," ujar Yannes. "Lalu, diikuti EV di kota besar seiring ekspansi infrastruktur. Tapi, percepatan ini tetap sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, insentif, dan investasi infrastruktur, karena tanpa itu, adopsi di luar Jawa berisiko tertahan," kata Yannes. Menurut Yannes, momentum krisis ini seharusnya dimanfaatkan bukan hanya sebagai respons jangka pendek, tetapi sebagai dorongan sistematis menuju ketahanan energi nasional yang lebih kuat. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang