Persepsi publik terhadap kendaraan listrik di Indonesia kian menunjukkan arah positif, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap dampak polusi udara yang kini tidak lagi bersifat abstrak, melainkan sudah dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menjadi sinyal penting bahwa transisi menuju kendaraan rendah emisi mulai diterima. Namun, di sisi lain, kesiapan adopsi di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan. Wirdatul Aini, peneliti Litbang Kompas, mengatakan hasil survei terbaru menunjukkan bahwa kendaraan listrik sudah memiliki citra yang kuat sebagai solusi ramah lingkungan di benak masyarakat. "Mayoritas responden sudah mengasosiasikan kendaraan listrik sebagai solusi bebas polusi, baik dari sisi udara maupun suara, sehingga persepsinya cenderung positif," kata Aini dalam acara Tantangan Percepatan Kendaraan Listrik di Indonesia di Jakarta Barat, Rabu (8/4/2026). Dalam survei yang melibatkan 500 responden di lima provinsi, Litbang Kompas menemukan bahwa isu lingkungan menjadi pintu masuk utama dalam membentuk persepsi tersebut. Persepsi publik terhadap kendaraan listrik kian positif, namun adopsi masih terkendala infrastruktur dan kepraktisan. Kendaraan listrik dinilai mampu berkontribusi dalam mengurangi polusi udara, yang selama ini dianggap sebagai masalah nyata di berbagai wilayah perkotaan. Kesadaran ini tidak lepas dari pengalaman langsung masyarakat. Sekitar 60 persen responden mengaku pernah mengalami atau memiliki anggota keluarga yang terdampak gangguan kesehatan akibat polusi udara, seperti batuk dalam kurun waktu satu hingga tiga bulan terakhir. Temuan ini memperkuat bahwa persoalan polusi bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan sudah menjadi persoalan kesehatan yang nyata. Karena itu, kendaraan listrik dipandang sebagai salah satu solusi yang relevan, khususnya untuk menekan emisi dari sektor transportasi. Namun, persepsi positif tersebut belum sepenuhnya diikuti kesiapan masyarakat untuk beralih. Sejumlah responden masih menilai kendaraan berbasis bahan bakar minyak (BBM) lebih praktis, terutama karena waktu pengisian yang hanya memakan beberapa menit, dibandingkan kendaraan listrik yang membutuhkan waktu lebih lama serta didukung infrastruktur yang belum merata. Selain itu, masyarakat juga menilai percepatan adopsi kendaraan listrik membutuhkan peran aktif pemerintah. Langkah yang diharapkan antara lain memperketat regulasi terhadap produsen kendaraan, serta memberikan insentif agar harga kendaraan listrik menjadi lebih terjangkau. Secara umum, hasil survei ini menunjukkan bahwa fondasi persepsi publik terhadap kendaraan listrik sudah terbentuk dengan baik. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membangun citra positif, melainkan memastikan kesiapan ekosistem agar kendaraan listrik benar-benar menjadi pilihan utama, bukan hanya alternatif dalam mobilitas sehari-hari. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang