Dominasi Marc Marquez di MotoGP dinilai bukan hanya soal keberanian atau kecepatan semata. Mantan juara dunia Casey Stoner menyebut ada dua faktor utama yang membuat pebalap asal Spanyol itu sulit dikalahkan, yakni kecerdikan mengatur balapan dan kemampuannya menyusun strategi sejak awal lomba. Stoner memang tidak pernah balapan langsung melawan Marquez. Casey Stoner bantu Francesco Bagnaia agar lebih kompetitif Ia pensiun pada 2012 dan posisinya di Repsol Honda justru digantikan oleh Marquez. Namun, sebagai pengamat, Stoner mengikuti perkembangan karier Marquez sejak awal. “Tidak diragukan lagi bakatnya, kecepatannya, dan hal-hal seperti itu, tidak ada yang perlu dipertanyakan,” kata Casey Stoner kepada Crash.net dikutip Senin (16/2/2026). “Kalau ada yang meragukannya, berarti ada yang salah,” ujarnya. Menurut Stoner, banyak pebalap saat ini sebenarnya punya kecepatan. Namun, tidak semuanya mampu memaksimalkan kemampuan membaca situasi balapan. “Namun saya rasa banyak pebalap terjebak dalam kesalahan yang sama. Memang banyak pebalap cepat saat ini, tetapi saya tidak melihat banyak dari mereka yang menggunakan sepenuhnya kemampuan race craft mereka. Di situlah Marc mengalahkan mereka," katanya. Pebalap Ducati Lenovo Team, Marc Marquez, mengendarai motornya dalam sesi kualifikasi menjelang MotoGP Mandalika 2025 di Sirkuit Internasional Mandalika di Mandalika, Nusa Tenggara Barat pada 4 Oktober 2025. (Foto oleh Sonny TUMBELAKA / AFP) Ia bahkan menyebut Marquez pernah memiliki kelemahan, tetapi tidak ada rival yang benar-benar mampu memanfaatkannya. “Marc dulu punya satu kelemahan besar yang menurut saya tidak banyak orang sadari, dan saya juga tidak akan mengatakannya. Tapi mengejutkan tidak ada yang bisa memanfaatkannya, mungkin karena semua orang melihatnya seperti ‘bos terakhir’," ujarnya. “Alih-alih mencari tahu apa yang perlu mereka tingkatkan atau bagaimana cara membalap melawan Marc, mereka hanya melihatnya sebagai pesaing yang sangat sulit,” kata Stoner. Lebih Sabar dan Cerdas Marquez sempat enam tahun tanpa gelar setelah terakhir juara pada 2019. Cedera panjang dan motor yang kurang kompetitif membuatnya kesulitan. Namun, ia bangkit dan kembali menjadi juara pada 2025. Bagi Stoner, masa sulit itu justru membuat Marquez berkembang. “Saya sendiri berkarier di MotoGP selama rentang waktu seperti itu,” ujar Stoner. “Apa yang terjadi dalam beberapa tahun sulit itu adalah membangun level kekuatan, kecerdasan, dan kesabaran baru. Dan itu yang menurut saya kurang dimiliki para pebalap yang sekarang melawannya,” katanya. Sejumlah marshal mendorong sepeda motor rider Ducati Lenovo Marc Marquez usai terjatuh dalam sesi practice MotoGP Indonesia 2025 di tikungan 11 Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Jumat (3/10/2025). Pembalap Aprilia, Marco Bezzecchi, menjadi yang tercepat dalam sesi tersebut dengan catatan waktu tercepat satu menit 29,240 detik, sementara pembalap BK8 Gresini Racing MotoGP Fermin Aldeguer berada di peringkat dua dengan cacatan waktu 0,408 detik lebih lambat dari Bezzecchi. ANTARAFOTO/Aditya Pradana Putra/YU Salah satu perubahan paling terlihat adalah cara Marquez mengelola ban. Ia tidak lagi selalu menyerang sejak awal, tetapi lebih sabar. “Tidak ada yang benar-benar memahami apa yang ia lakukan dalam balapan untuk menjaga ban dan hal-hal seperti itu. Mereka hanya melihat Marc dengan satu kecepatan, padahal ia memainkan kartu berbeda setiap pekan,” katanya. “Tema yang sangat umum sepanjang 2025, dan kurang disadari orang, adalah betapa sabarnya ia terhadap ban,” ujar Stoner. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang