Mobil listrik memiliki karakteristik berbeda dibanding mobil bermesin pembakaran internal, termasuk pada sistem pengeremannya. Hal ini karena kendaraan listrik memanfaatkan teknologi pengereman regeneratif yang membantu memperlambat kendaraan sekaligus mengisi ulang energi baterai. Meski demikian, sistem pengereman konvensional pada mobil listrik tetap berperan penting, terutama dalam kondisi tertentu seperti pengereman mendadak atau saat kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi. Kondisi musim hujan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh pemilik kendaraan listrik. Air, lumpur, hingga genangan di jalan berpotensi memengaruhi kinerja komponen pengereman jika tidak dirawat dengan baik. Impresi awal test drive mobil listrik Geely EX2 Head of Marketing MG Motor Indonesia, Hary Kurniawan, mengatakan, mobil listrik memiliki sistem pengereman regeneratif. Sehingga, penggunaan rem konvensional cenderung lebih ringan dibanding mobil ICE. "Meski demikian, di musim hujan atau setelah melewati genangan air, perawatan tetap diperlukan untuk menjaga performa pengereman," ujar Hary, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Menurut Hary, salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah melakukan pengereman ringan secara berkala setelah melewati genangan air. Cara ini membantu mengeringkan cakram serta kampas rem agar tetap bekerja optimal. Ilustrasi Regenerative braking. "Jaga kebersihan area roda dari lumpur atau kotoran yang dapat mempengaruhi sistem pengereman," kata Hary. "Lakukan pemeriksaan rutin di bengkel resmi, terutama jika kendaraan sering digunakan dalam kondisi hujan atau jalan tergenang," ujarnya. Hary mengatakan, perawatan sederhana ini membantu memastikan sistem rem tetap optimal dan aman digunakan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang