Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama Kementerian Keuangan membahas penguatan kebijakan insentif industri, termasuk untuk kendaraan listrik. Bahasan tersebut dilakukan dalam pertemuan antara Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Selasa (5/5/2026). Salah satu fokus utama adalah insentif kendaraan listrik yang dinilai semakin penting, bukan hanya untuk mendukung pengurangan emisi, tetapi juga menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan beban subsidi pemerintah. “Insentif kendaraan listrik kini semakin relevan. Selain untuk menekan emisi, juga untuk mengurangi konsumsi BBM sehingga dapat menekan beban subsidi," kata Agus dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026). Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. "Yang tidak kalah penting, kebijakan ini harus mampu memperkuat industri dalam negeri dan melindungi tenaga kerja kita,” lanjut Agus. Pertemuan tersebut juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi pelaku industri di lapangan, sekaligus merumuskan langkah strategis untuk mempercepat pertumbuhan manufaktur nasional. “Kita bedah berbagai macam kendala yang mungkin dihadapi di lapangan oleh pelaku usaha industri, kemudian kita carikan jalan keluarnya," kata Agus. “Kami juga memberikan apresiasi sejak awal bahwa Menteri Keuangan sudah membuka dan mengkanalisasi berbagai permasalahan yang dihadapi pelaku usaha, termasuk melalui pembentukan tim debottlenecking,” ujar Agus. Menurut dia, koordinasi erat antara Kemenperin dan Kementerian Keuangan menjadi kunci agar kebijakan yang dihasilkan lebih tepat sasaran, baik dalam bentuk stimulus maupun insentif. Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Istana, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Langkah tersebut dinilai penting karena sektor manufaktur masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. “Intinya, kami membahas berbagai policy dan langkah yang perlu diambil pemerintah, baik sebagai stimulus maupun insentif, agar pertumbuhan manufaktur yang menopang pertumbuhan ekonomi dapat berjalan lebih baik dan lebih cepat,” kata Agus. Selain itu, Agus juga menyoroti kontribusi besar sektor manufaktur terhadap ekspor nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 75 hingga 80 persen ekspor Indonesia berasal dari produk manufaktur. BYD Atto 1 terbaru di Beijing Auto Show 2026 “Kita ingin meningkatkan capaian tersebut. Namun perlu dipahami bahwa struktur manufaktur Indonesia berbeda dengan negara lain seperti Vietnam, Thailand, maupun Malaysia," ucap Agus. “Selama ini, sekitar 80 persen output manufaktur kita diserap pasar domestik, sementara sekitar 20 persennya diekspor,” jelasnya. Oleh karena itu, pemerintah berupaya mendorong peningkatan ekspor tanpa mengurangi kekuatan pasar dalam negeri, dengan tetap menjaga perlindungan terhadap industri domestik sekaligus membuka peluang ekspansi ke pasar global. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang