Sekertaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengungkapkan pertemuan dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa beberapa waktu lalu. Dalam forum diskusi bersama Forum Wartawan Industri (Forwin) di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (22/4/2026), ia mengatakan bahwa pertemuan tersebut masih bersifat awal dan belum membahas isu strategis industri otomotif, khususnya insentif. “Pada waktu itu kita hadir untuk audiensi dan meminta kesediaan beliau untuk conference bersama dengan Gaikindo saat GIIAS nanti di 4 Agustus 2026, kami mohon beliau menjadi keynote speech, dan beliau siap untuk hadir,” ujar Kukuh, Rabu. Ilustrasi kendaraan listrik, mobil listrik. Ia menambahkan, keterbatasan waktu membuat pembahasan belum mencakup hal-hal lain yang lebih teknis. “Yang lain belum sempat dibicarakan (termasuk insentif kendaraan listrik) karena waktunya saat itu terbatas. Namun beliau bersedia untuk duduk bersama kembali dengan Gaikindo,” kata dia. Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggelar pertemuan dengan Gaikindo di Kantor Kementerian Keuangan, Kamis (9/4/2026), membahas penguatan pasar otomotif domestik serta percepatan transisi menuju kendaraan listrik dan hybrid. Dalam pertemuan tersebut, Purbaya menyoroti kinerja industri otomotif nasional yang menunjukkan tren positif sepanjang kuartal I/2026. “Pemerintah berkomitmen memberikan dukungan agar industri otomotif dalam negeri semakin kompetitif secara global, sekaligus mendorong transisi menuju kendaraan yang lebih bersih,” ujar Purbaya dalam keterangan resminya. Ia menambahkan, sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesiapan industri menjadi faktor penting agar Indonesia dapat memperkuat perannya dalam rantai pasok global kendaraan listrik, sekaligus menekan emisi karbon dari sektor transportasi. Ilustrasi mobil listrik. Meski demikian, tidak ada rincian apakah pertemuan tersebut juga membahas kelanjutan insentif otomotif untuk tahun fiskal 2026. Di sisi lain, Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menyebut pihaknya masih menunggu kepastian kebijakan dari pemerintah, khususnya terkait arah stimulus otomotif pada tahun ini. “Kita sebagai organisasi yang mewadahi produsen tentu menunggu keputusan pemerintah. Yang jelas komunikasi dengan pemerintah terus berjalan,” ujar Putu kepada Kompas.com belum lama ini. Menurut dia, stimulus di sektor otomotif pada dasarnya dapat diarahkan ke dua sisi, yakni produsen (hulu) maupun konsumen (hilir). Namun, dalam kondisi saat ini, kebijakan yang menyasar langsung pembeli kendaraan dinilai lebih efektif untuk mendorong permintaan. “Stimulus itu sebenarnya bisa dipilah dua, untuk manufaktur dan untuk pembeli kendaraan. Tapi yang sekarang paling memungkinkan diberikan memang untuk konsumennya,” ujar Putu. Ia menjelaskan, industri otomotif saat ini telah mendapatkan berbagai fasilitas untuk investasi, seperti tax holiday dan kemudahan lainnya. Oleh karena itu, insentif yang menurunkan harga kendaraan di tingkat konsumen diyakini akan memberikan dampak lebih besar terhadap peningkatan penjualan. “Untuk manufaktur sudah ada fasilitas seperti tax holiday dan beberapa kemudahan investasi lainnya. Jadi yang disentuh sekarang lebih ke pembelinya supaya kendaraan lebih terjangkau,” kata dia. Diskusi Forwin di Kementerian Perindustrian Putu menambahkan, adanya stimulus dari pemerintah juga berperan dalam meningkatkan minat masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi, khususnya battery electric vehicle (BEV). “Dengan stimulus dari pemerintah, pasar mulai menyukai kendaraan seperti battery electric vehicle. Selain lebih ramah lingkungan, biaya operasionalnya juga lebih murah,” ujarnya. Sebagai informasi, sejumlah insentif otomotif telah berakhir per 31 Desember 2025, termasuk pembebasan bea masuk mobil listrik secara utuh, PPN 10 persen untuk mobil listrik, serta insentif PPnBM ditanggung pemerintah untuk mobil hybrid. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang