Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggelar pertemuan dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Agenda utama pertemuan tersebut membahas penguatan pasar otomotif domestik sekaligus percepatan transisi menuju kendaraan listrik dan hybrid. Dalam pertemuan itu, Purbaya menyoroti kinerja pasar otomotif nasional yang menunjukkan tren positif pada kuartal I/2026. “Pemerintah berkomitmen memberikan dukungan agar industri otomotif dalam negeri semakin kompetitif secara global, sekaligus mendorong transisi menuju kendaraan yang lebih bersih,” ujar Purbaya dalam keterangan resminya, Jumat (10/4/2026). Menurut dia, sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesiapan industri menjadi kunci agar Indonesia dapat mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global kendaraan listrik, sekaligus menekan emisi karbon dari sektor transportasi. Meski demikian, tidak dirinci apakah pertemuan juga membahas kelanjutan insentif otomotif tahun fiskal 2026. Pihak Gaikindo juga belum memberikan tanggapannya saat dikonfirmasi hingga berita ini diterbitkan. Dalam kesempatan terpisah, Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika mengatakan, pihaknya hingga kini masih menunggu kepastian kebijakan dari pemerintah untuk 2026. “Kita sebagai organisasi yang mewadahi produsen tentu menunggu keputusan pemerintah. Yang jelas komunikasi dengan pemerintah terus berjalan,” kata Putu kepada Kompas.com belum lama ini . Ia menjelaskan, stimulus di sektor otomotif pada dasarnya bisa diarahkan ke dua sisi, yakni produsen (manufaktur) maupun konsumen. Namun, dalam kondisi saat ini, insentif dinilai lebih efektif jika menyasar langsung pembeli kendaraan. “Stimulus itu sebenarnya bisa dipilah dua, untuk manufaktur (hulu) dan untuk pembeli kendaraan (hilir). Tapi yang sekarang paling memungkinkan diberikan memang untuk konsumennya,” ujar Putu. Menurut dia, industri otomotif sejatinya sudah mendapatkan sejumlah fasilitas untuk investasi, seperti tax holiday dan berbagai insentif fiskal lainnya. Oleh karena itu, kebijakan yang menurunkan harga kendaraan di tingkat konsumen dinilai akan lebih berdampak terhadap permintaan. “Untuk manufaktur sudah ada fasilitas seperti tax holiday dan beberapa kemudahan investasi lainnya. Jadi yang disentuh sekarang lebih ke pembelinya supaya kendaraan lebih terjangkau,” kata dia. Ilustrasi penjualan mobil. “Dengan stimulus dari pemerintah, pasar mulai menyukai kendaraan seperti battery electric vehicle. Selain lebih ramah lingkungan, biaya operasionalnya juga lebih murah,” ujarnya. Sebagai informasi, sejumlah insentif otomotif telah berakhir per 31 Desember 2025, termasuk pembebasan bea masuk mobil listrik secara utuh, PPN 10 persen untuk mobil listrik, serta insentif PPnBM ditanggung pemerintah untuk mobil hybrid. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya mengungkapkan bahwa usulan insentif otomotif untuk 2026 telah disampaikan kepada Kementerian Keuangan, namun hingga kini masih dalam tahap pembahasan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang