Menjelang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, pelaku industri otomotif dihadapkan pada realitas baru: insentif kendaraan listrik tak lagi menjadi penopang utama pasar. Pemerintah telah menghentikan pemberian insentif kendaraan listrik pada awal 2026, seiring evaluasi kebijakan dan kondisi pasar yang dinilai semakin matang. Kebijakan ini mendorong industri untuk melakukan penyesuaian, bukan hanya dari sisi harga, tetapi juga strategi bisnis secara keseluruhan. Presiden Direktur Dyandra Promosindo sekaligus promotor IIMS, Daswar Marpaung, mengatakan bahwa industri pada dasarnya masih berharap adanya kelanjutan dukungan dari pemerintah. Kunjungan President GAC International Wei Haigang ke IIMS 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (22/2/2025). Namun, ia menegaskan bahwa keberlangsungan bisnis tidak bisa bergantung sepenuhnya pada kebijakan fiskal. “Walaupun tidak ada insentif, bisnis tetap harus jalan. Itu cuma penyesuaian saja dari semua harga. Karena secara affordability masih masuk, jadi kita masih optimis,” kata Daswar di Jakarta, Selasa (27/1/2026). Menurut Daswar, pasar kendaraan roda empat masih menjadi tulang punggung industri otomotif nasional. Hal tersebut juga tecermin dalam penyelenggaraan IIMS 2026, di mana segmen roda empat masih mendominasi sekitar 80 persen dari keseluruhan pasar yang ditampilkan. Ia menilai, meskipun kendaraan listrik terus mengalami peningkatan, kendaraan berbahan bakar bensin masih memegang peran utama. Karena itu, penyelenggara pameran tidak secara kaku memisahkan antara kendaraan listrik dan konvensional. “Main listrik memang naik, tapi bensin tetap ada. Kita enggak membagi secara kaku mana listrik mana bensin, karena tujuannya kan menumbuhkan SPK,” ujarnya. Dalam konteks pameran, dominasi kendaraan roda empat juga tecermin dari luas area dan banyaknya merek yang berpartisipasi di berbagai hall IIMS 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas dan minat industri tetap tinggi, meski insentif kendaraan listrik telah dihentikan. Dengan demikian, Daswar menegaskan bahwa insentif seharusnya dipahami sebagai stimulus awal, bukan fondasi utama industri. Ia menilai, berakhirnya insentif justru menjadi penanda bahwa pasar otomotif Indonesia mulai memasuki fase yang lebih mandiri, dengan daya beli dan kesiapan pasar sebagai penentu utama keberlanjutan bisnis. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang