Toyota Indonesia masih menantikan kejelasan kebijakan insentif sektor otomotif pada tahun fiskal 2026 yang hingga kini masih dalam tahap pembahasan pemerintah. Kepastian kebijakan tersebut dinilai penting karena akan berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat, penjualan kendaraan, hingga pemanfaatan kapasitas produksi pabrik di dalam negeri. Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, mengatakan, dari sisi internal, kondisi produksi Toyota saat ini masih relatif terjaga. Booth Toyota di IIMS 2024 “Utilisasi kapasitas kita masih 80 persen. Masih aman sebenarnya supply chain kita,” ujar Nandi di sela pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Namun, secara nasional, berdasarkan data Gaikindo, pemanfaatan kapasitas industri otomotif nasional selama Januari-Desember 2025 masih belum optimal. Kapasitas produksi terpasang pabrik mencapai sekitar 2 juta unit per tahun, sementara realisasi produksinya hanya 1.147.600 unit. Dengan capaian tersebut, tingkat utilisasi pabrik nasional baru berada di kisaran 57 persen. Artinya, masih terdapat lebih dari 40 persen kapasitas produksi yang belum termanfaatkan secara maksimal. Daya Beli Terpukul Menurut Nandi, salah satu faktor yang membuat kapasitas produksi belum optimal adalah tekanan terhadap daya beli, khususnya pada segmen kendaraan kelas bawah. “Yang terdampak itu sekarang A segmen dan B segmen. Kenaikan harga mobilnya dibanding dengan kenaikan income, masih cukup berat,” kata Nandi. Ia menjelaskan, pada segmen menengah ke atas, kenaikan harga kendaraan relatif masih dapat diimbangi dengan peningkatan pendapatan. Namun, pada segmen menengah ke bawah, kondisi tersebut membuat masyarakat lebih menahan diri untuk membeli kendaraan baru. “Artinya daya beli kelas menengah ke bawah perlu didorong. Itu sebenarnya fungsi stimulus,” ujarnya. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. Insentif Otomotif Harus Adil Oleh karena itu, Toyota berharap pemerintah dapat menghadirkan skema insentif yang tepat sasaran dan bersifat inklusif, sehingga dapat mendorong permintaan pasar secara lebih merata. “Kita selalu bicara fairness. Kalau bicara mengurangi emisi, ya semua yang mengurangi emisi dapat. Kalau bicara lokal konten, yang lokal kontennya tinggi juga dapat. Bukan untuk hal tertentu saja,” kata Nandi. Ia menilai, kebijakan yang adil dan menyeluruh akan membantu meningkatkan penjualan, sekaligus mendorong pemanfaatan kapasitas produksi nasional. “Mudah-mudahan ke depan lebih fair dan bisa mendukung pasar,” ucapnya. Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor (TAM), Jap Ernando Demily, menambahkan bahwa kebijakan insentif otomotif perlu dilihat dari perspektif yang lebih luas karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh produsen kendaraan. “Industri otomotif itu rantainya panjang. Bukan cuma pabrikan, tapi sampai first tier, second tier, UMKM, diler, bengkel, logistik, sampai pembiayaan,” kata Ernando dalam kesempatan terpisah. Menurut dia, sektor otomotif memiliki efek berganda yang besar terhadap perekonomian nasional dan menyerap banyak tenaga kerja. Sebagai contoh, Toyota hingga saat ini telah melakukan investasi senilai Rp 100 triliun dan seiring dengannya beroperasi lima pabrik dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 350.000 jiwa. “Multiplier effect yang diciptakan luas sekali. Jadi dalam tanda kutip perlu diselamatkan dengan insentif, baik fiskal maupun nonfiskal,” ujarnya. "Kita percaya pemerintah pasti bijaksana. Semangatnya sama, Indonesia ingin GDP tumbuh 8 persen dan saya yakin industri otomotif adalah salah satu industri yang bisa mendukung itu. Jadi kita harap pemerintah bisa buat keputusan terbaik," lanjut Ernando. Usulan Insentif Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, mengatakan pihaknya telah mengajukan usulan rancangan insentif di sektor otomotif 2026 kepada Kementerian Keuangan. Namun dirinya masih enggan mengungkap bocoran rancangan insentif dimaksud dan besarannya. Ia hanya berharap usulan dimaksud bisa segera diterbitkan agar mendorong daya beli. “Sudah bersurat ke Kemenkeu supaya bisa membantu industri otomotif agar penjualannya membaik. Sekarang masih dalam pembahasan,” ujar Setia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang